Tujuan, Implementasi, Dan Prospek Kerjasama Energi Asean-Rusia

30 08 2010

by : Muhammad Lutfi & Igor Dirgantara

Analisis Kerjasama ASEAN-Federasi Rusia

Secara geografis Federasi Rusia merupakan salah satu negara di Kawasan Eropa yang ¼ wilayahnya terletak di Benua Asia, tepatnya dekat dengan China dan Mongolia. Sejak dulu dan di masa yang akan datang, Federasi Rusia akan mempunyai kepentingan yang besar dalam bidang politik, ekonomi, militer, dan dalam pengertian yang lebih luas, kepentingan peradaban di Kawasan Asia, yang membutuhkan partisipasi secara lebih aktif dari Federasi Rusia dalam proses integrasi regional, dan diwujudkan dalam bentuk kerjasama di berbagai bidang dengan ASEAN. Federasi Rusia adalah mitra dialog ke 10 ASEAN yang menunjuk Dubes Khususnya untuk ASEAN.

81

Peningkatan kerja sama politik ASEAN-Federasi Rusia ditandai dengan penandatanganan Joint Declaration On The Ministers Of Forign Affairs Of Russia and Member States Of The Association Of South East Asian Nations On Partnership for Peace, Stability And Security In The Asia-Pacific Region, pada bulan Juni 2003 di Phnom Penh, Kamboja, pada saat pertemuan ASEAN PMC+1 Session With Russia. Kerjasama politik ASEAN-Federasi Rusia juga terus meningkat sejalan dengan aksesi Federasi Rusia pada Treaty Of Amity And Cooperation In Southeast Asia (TAC), tanggal 29 November 2004 di sela-sela KTT ke 10 ASEAN, di Vientiane, Laos.

Untuk meningkatkan kerjasama ekonomi ASEAN-Federasi Rusia membentuk ASEAN-Russian Working Group on Trade and Economic Cooperation (ARWTEC). Pertemuan pertama kelompok kerja tersebut diselenggarakan pada tanggal 19 September 2002 dengan tujuan untuk memfasilitasi usaha pertukaran informasi mengenai perdagangan dan investasi serta sebagai forum interaksi yang diharapkan dapat meningkatkan kerjasama perdagangan dan ekonomi ASEAN-Federasi Rusia. Beberapa bidang prioritas kerjasama yang memungkinkan dilaksanakan di bidang IPTEK telah diidentifikasi dalam pertemuan tersebut, antara lain biotechnology, new materials, information technology, microelectronics, meteorology dan geophysics.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kemajuan yang telah dicapai dalam kemitraan ASEAN-Federasi Rusia baru pada tataran politis. Kemajuan-kemajuan yang berkelanjutan dalam bidang dialog politik dapat dilihat antara lain dengan adanya penandatanganan Joint Declaration On Partnership For Peace, Stability And Security In The Asia-Pacific Region tahun 2003; Joint Declaration On Cooperation To Combat International Terrorism tahun 2004, termasuk juga keinginan Federasi Rusia untuk bisa berpartisipasi dalam East Asia Summit (EAS).

Dalam Post Ministeral Conference (PMC) Session With Russia tanggal 23 Juli 2008 di Singapura telah diadopsi Roadmap On The Implementation Of Comprehenshive Programme Of Action To Promote Cooperation Between ASEAN And Russia 2005-2015 yang merupakan acuan kegiatan konkret tindak lanjut ASEAN-Russia Plan Of Action. Agreement On Cultural Cooperation dan MoU On The Establishment Of The ASEAN Centre In Moscow sekarang masih dalam proses finalisasi.[1]

Pada bulan Juni 2007 Federasi Rusia telah mengeluarkan dana sejumlah 500 ribu USD untuk pendanaan proyek kerjasama ASEAN-Federasi Russia yang disalurkan melalui ASEAN-Russia Dialogue Partnership Financial Fund (DPFF). Saat ini baru satu proyek yang dilaksanakan dengan menggunakan dana tersebut, yaitu ASEAN-Russia Workshop, “Working Toward Regional And Local Vaccine Self Suffiency,” 27-28 November 2008, di Moskow, Federasi Rusia. Sekarang ini, Federasi Rusia juga telah menyalurkan dana tambahan kontribusi untuk DPFF sebesar 500 ribu USD pada tahun 2008 lalu. Pada pertemuan ASEAN-Russia Joint Planning Management Committee (ARJPMC) dan ASEAN-Russia Joint Cooperation Committee (ARJCC) pada tanggal 8-10 Oktober 2008 di St. Petersburg, Federasi Rusia telah menyampaikan akan konsisten memberikan kontribusi secara rutin kepada DPFF setiap tahun.[2]

Salah satu proyek yang akan dibiayai dengan menggunakan DPFF adalah usulan Indonesia, Russia Languange Course For ASEAN Tour Operators. Proyek tersebut secara prinsip telah disetujui oleh ASEAN dan juga didukung oleh sectoral bodies ASEAN (Task Force On Tourism Manpower Development) serta Federasi Rusia, namun sampai saat ini masih menunggu komitmen Federasi Rusia untuk implementasinya. Peran Indonesia dalam hubungan kemitraan ASEAN-Federasi Rusia terlihat melalui upaya untuk mendesak Federasi Rusia agar segera mengimplementasikan Comprehensive Programme Of Action 2005-2011. Salah satu di antaranya adalah dengan mengusulkan diselenggarakannya pengajaran bahasa Rusia bagi tour operators negara-negara ASEAN, mengingat meningkatnya arus kunjungan wisatawan Federasi Rusia ke negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Melalui proyek tersebut diharapkan hubungan ASEAN-Federasi Rusia dapat lebih intensif, khususnya dalam upaya mendorong kerja sama people-to-people contact. Menurut Direktorat Jenderal Kerjasama Mitra Dialog ASEAN, terlihat bahwa persoalan proyek-proyek kerjasama ASEAN-Federasi Rusia masih mempunyai kendala birokrasi yang cukup rumit walaupun sudah sampai pada tingkat sektoral.[3] Bila dibandingkan dengan mitra wicara ASEAN yang lain, seperti China atau Amerika Serikat, Federasi Rusia jauh lebih lambat untuk mencairkan dana dari proyek kerjasama yang sudah disepakati. Usulan untuk meningkatkan kerjasama energi misalnya, sampai saat ini belum ada realisasinya. Masalah internal Federasi Rusia nampaknya merupakan faktor yang signifikan dalam mempengaruhi kurang cepatnya pencairan dana untuk melaksanakan proyek-proyek kerjasama ASEAN-Federasi Rusia di berbagai bidang.

Persoalan kurang jelasnya identitas Federasi Rusia, apakah cenderung melihat ke Asia atau masih memprioritaskan kepentingannya di Eropa, dianggap masih menimbulkan kebingungan dari pihak Indonesia dan mungkin negara-negara lain anggota ASEAN.

Namun bila dilihat dari lingkaran utama konsentrasi politik luar negeri Federasi Rusia, beberapa dokumen penting menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara, termasuk ASEAN, masih menempati urutan ke 5 atau 6 dari prioritas kepentingan nasional Federasi Rusia. Jika ini benar, maka Federasi Rusia jelas kalah cepat dengan negara mitra dialog ASEAN yang lain, terutama China, India, Australia, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Bisa jadi sampai saat ini, Federasi Rusia masih tetap melihat ancaman Jerman (di Eropa) dan Jepang (di Timur) sebagai sesuatu yang masih menghantui pelaksanaan kebijakan luar negerinya.

Federasi Rusia dan ASEAN adalah dua pihak yang memiliki kepentingan yang saling melengkapi (complementary interest). Federasi Rusia memiliki kepentingan untuk memperluas pasar minyak dan gas, memperluas mitra dagang untuk komoditas non-migas, dan menandingi hegemoni Amerika Serikat di Asia Tenggara. Sedangkan ASEAN memiliki kepentingan dalam pemenuhan kebutuhan migas, pengembangan teknologi satelit luar angkasa, pengembangan teknologi reaktor listrik, dan pemenuhan kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) ketika Amerika Serikat memberlakukan embargo militer terhadap negara-negara ASEAN. Selain itu, Federasi Rusia jelas bisa menjadi balancer terhadap negara-negara pro-Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang dan Australia serta China dan India dari segi kekuatan ekonomi yang mengalami peningkatan yang sangat menakjubkan.

Kepentingan yang saling melengkapi ini dapat dikolaborasikan melalui kerjasama-kerjasama antara Federasi Rusia dan ASEAN untuk diimplementasikan di masa yang akan datang dan menjadi prioritas, walaupun akan ada banyak hambatan, terutama dari Federasi Rusia sendiri, seperti:[4]

1. Bidang Energi

Kerjasama Federasi Rusia dan ASEAN sudah dimulai sejak dibukanya hubungan kemitraan dan dialog Federasi Rusia-ASEAN pada tahun 1996. Dalam rangka memperkuat perdagangan migas dengan negara-negara Asia Pasifik dan Asia Tenggara, Federasi Rusia telah membangun ESPO (East Siberian Pasific Ocean Pipeline Project) pada tahun 2006. ESPO adalah pembangunan pipa gas dari Siberia hingga China sampai ke Semenanjung Korea dan Jepang. Setelah minyak dialirkan melalui pipa-pipa yang telah dibangun, maka minyak akan diangkut melalui kapal-kapal tanker yang berada di pelabuhan Semenanjung Korea, China dan Jepang. Dalam beberapa tahun ke depan, sumber minyak di Asia Tenggara diperkirakan akan semakin menipis, dan Federasi Rusia adalah satu-satunya alternatif dalam penyedia sumber daya migas. Melalui ESPO, Federasi Rusia diperkirakan akan mampu memenuhi kebutuhan minyak negara-negara Asia Pasifik dan Asia Tenggara hingga tahun 2030 (sekitar 106 juta ton minyak dan gas). Yang harus dilakukan Federasi Rusia dan ASEAN dalam bidang energi adalah:

-       Memulai pembicaraan mengenai perdagangan migas melalui ESPO,

-       Melakukan pembicaraan mengenai pengadaan sistem penyulingan minyak mentah untuk negara-negara Asia Tenggara,

-       Berusaha menyelesaikan konflik di Semenanjung Korea, karena selama ini konflik di Semenanjung Korea menjadi masalah utama yang mengganggu kondusifitas perdagangan migas dan komoditi nonmigas di sekitar Asia Pasifik,

-       Memulai kerjasama dalam teknologi pembangunan infrastruktur energi pembangkit listrik bertenaga matahari, nuklir, dan sumber energi terbarukan lainnya di Asia Tenggara,

-       Kerjasama dalam bidang batubara dan energi-energi alternatif yang dapat diperbaharui (renewable and alternatif energy),

-       Mempromosikan masalah energy security dan membuat kebijakan-kebijakan yang progresif dalam kerangka kerjasama energi. Di sini Federasi Rusia harus siap memainkan peranan kunci dalam pembentukan arsitektur energi baru di Kawasan Asia Pasifik/Asia Tenggara.

2. Bidang Militer Dan Keamanan

Keunggulan teknologi senjata Federasi Rusia membuat banyak negara berusaha menjadikan Federasi Rusia sebagai alternatif dalam pemenuhan alutsista. Pemenuhan kebutuhan tersebut disebabkan karena banyaknya negara-negara yang mengalami embargo militer dari Amerika Serikat sebagai salah satu negara produsen alutsista terbesar yang senantiasa mengaitkan persoalan penegakan HAM dan Demokrasi di suatu negara.

Beberapa transaksi alutsista Federasi Rusia dan negara-negara ASEAN yang tercatat adalah penjualan SU-27 dan SU-30 MK kepada Indonesia, Malaysia dan Vietnam.[5] Dalam hal ini, kerjasama yang harus dilakukan ASEAN dan Federasi Rusia adalah:

  • Pembangunan sistem satelit dan radar sebagai penunjang dalam ASEAN Collective Security,
  • Penempatan instruktur, teknisi dan depot servis pesawat tempur untuk negara-negara ASEAN,
  • Kerjasama dan latihan militer gabungan Federasi Rusia dan ASEAN,
  • Pemenuhan infrastruktur militer lainnya seperti kendaraan lapis baja, pengacau radar, dan lain-lain.

3. Bidang IPTEK

  • Memperkuat pengembangan Sumber Daya Manusia,
  • Memberikan pelatihan-pelatihan teknik pengembangan transfer teknologi perminyakan, seperti Enhanced Oil Recovery, karena pada tahun 2020 diprediksikan 30 persen ekspor minyak akan beralih ke Kawasan Asia. Ada rencana dari pemerintah Federasi Rusia untuk mengurangi ketergantungan dari penjualan minyak dan gas bumi. Keputusan ini selaras dengan prediksi Goldmund Sachs, yang memprediksikan cadangan minyak dan gas Federasi Rusia yang mungkin tidak akan surplus seperti pada tahun 2009. Oleh karena itu menurut Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivanov, sekarang ini, Federasi Rusia berusaha untuk mengalihkan ketergantungan ekonominya dari penjualan minyak dan gas, untuk menjadi negara dengan konsep ekonomi pembangunan yang inovatif. Oleh karena itu Federasi Rusia harus menjual ilmu pengetahuan dan teknologinya. Federasi Rusia harus terbuka pada transfer teknologi dengan negara-negara dunia ketiga, dan itu tergantung dari kesepakatan bilateral yang telah ada sebelumnya. Salah satu ekspansi teknologi Federasi Rusia yang telah masuk ke Indonesia saat ini adalah berupa pasokan alat-alat berat seperti Buldozer,
  • Mengadakan program pertukaran pelajar dan memberikan beasiswa bagi siswa-siswi yang berpestasi. UI, ITB, dan Universitas Hassanudin telah membuat MoU di bidang pendidikan dengan Universitas St. Petersburg.

4. Bidang Counter Terrorist And Transnational Crime

  • Pertukaran informasi mengenai daftar nama orang yang pernah melakukan tindak kejahatan,
  • Menempatakan banyak intelijen di berbagai wilayah yang berpotensi menjadi serangan teroris dan kejahatan transnasional,
  • Mendidik masyarakat bahwa peranan mereka sangat dibutuhkan untuk mencegah serangan teroris dan kejahatan transnasional dengan cara memberikan informasi-informasi kepada pihak terkait apabila mereka melihat aktivitas-aktivitas sekelompok orang yang mencurigakan,
  • Membuat rencana-rencana yang lebih detail dan rahasia antara ASEAN-Federasi Rusia dalam mencegah tindakan teroris dan kejahatan transnasional.

5. Bidang Sosial, Budaya, Dan Pariwisata

  • Mengadakan festival makanan Rusia di negara-negara ASEAN. Restoran pertama Rusia sekarang ini telah dibuka di Bali,
  • Mengadakan festival makanan ASEAN di Federasi Rusia,
  • Mengadakan pertunjukan kebudayaan Federasi Rusia di ASEAN dan sebaliknya,
  • Mempromosikan tempat-tempat yang berpotensi menjadi objek wisata di ASEAN melalui program Visit ASEAN Year dan ASEAN Tourism Forum (di Hanoi, 2009). Kenaikan kesejahtaraan masyarakat Federasi Rusia terlihat dari daya beli kelas menengahnya yang semakin membaik yang berdampak pada kecenderungan bertambahnya wisatawan dari kalangan pengusaha kaya Federasi Rusia.

6. Bidang Ekonomi Dan Industri

  • Aktivitas pengembangan usaha dalam pengembangan industri kecil dan menengah seperti industri kerajinan tangan,
  • Pengembangan skill para pembuat kerjainan tangan dan mengorganisir hasil-hasil produksi kerajinan tangan dan mempromosikan hasil kerajinan tangan dari negara-negara ASEAN,
  • Membuat regulasi kerangka kerja yang lebih efisien dan menguntungkan,

Meningkatkan kontak-kontak bisnis langsung dan kontrak perusahaan besar Federasi Rusia dengan ASEAN seperti Gazprom, Rusal, Lukoil, Sintezmorneftegas, Altimo, termasuk industri traktor Federasi Rusia di Chelyabinsk dan Microgen yang cukup berhasil dalam memproduksi vaksin untuk virus flu burung. Kunjungan Gorbuna Irina, Presiden Akademi Bisnis Federasi Rusia pada Februari 2009 telah menargetkan tiga kota industri dan perdagangan (Jakarta, Batam dan Bintan) untuk menjajaki kemungkinan kerjasama ekonomi di tengah kemerosotan ekspor dan investasi asing pada krisis finansial global sekarang ini. Lesunya perekonomian Amerika, Jepang, dan beberapa negara Eropa telah dan akan memberi peluang bagi negara-negara lain seperti Brazil, Federasi Rusia, India, China, dan ASEAN (BRICA) untuk melakukan konsolidasi kekuatan ekonomi dalam negeri maupun kawasan sehingga di kemudian hari dapat mengambil alih kepemimpinan ekonomi global yang selama ini hegemoni Amerika Serikat selalu mendominasi, dan mampu mengisi kekosongan pasokan barang dan jasa di pasar internasional.

Tujuan Kerjasama Energi ASEAN-Federasi Rusia

Perkembangan ruang lingkup isu keamanan yang semakin kompleks dalam studi ilmu hubungan internasional pasca Perang Dingin menyebabkan seluruh negara di dunia mulai terfokus pada isu-isu apa saja yang termasuk ke dalam studi konsep keamanan kontemporer. Di mana isu keamanan saat ini tidak lagi hanya terfokus pada keamanan negara yang berorientasi kekuatan militer, tetapi juga fokus terhadap isu-isu yang secara keseluruhan dapat mempengaruhi siklus hidup dan siklus tumbuh negara seperti keamanan politik, ekonomi, lingkungan, dan sosial (termasuk HAM).[6]

Kawasan Asia Tenggara dapat dikatakan sebagai salah satu wilayah yang memiliki cadangan sumber daya energi dengan jumlah sedikit, bila dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di dunia. Namun begitu, ada beberapa negara di Asia Tenggara yang memiliki potensi sumber daya energi yang sangat besar dan dapat dianggap penting bagi negara-negara industri maju atas kapabilitas pasokan energinya, seperti Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Timor Leste.

Dengan kata lain, Kawasan Asia Tenggara selalu memiliki posisi strategis, baik secara politik dan ekonomi bagi negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Jepang, China, Australia, dan termasuk Federasi Rusia. Selain pasar yang potensial, sebagian besar jalur pelayaran Asia Tenggara, seperti Selat Malaka, merupakan jalur pelayaran internasional dengan volume kapal-kapal yang melewatinya sangat besar, dengan perkiraan omzet mencapai 350 milyar USD setiap tahunnya.

Pentingnya posisi Asia Tenggara tersebut dimanifestasikan oleh negara-negara industri maju melalui kerjasama dan pembentukan mitra dialog dengan aksesi Treaty Of Amity And Cooperation (TAC) ASEAN sebagai sebuah code of conduct dalam hubungan antarnegara di Kawasan Asia Tenggara yang lebih mengutamakan pendekatan damai.[7]

Dengan kondisi fluktuasi harga minyak dunia, isu penipisan sumber energi fosil, serta semakin berkembangnya isu pemanasan global saat ini, isu keamanan energi menjadi semakin penting bagi negara-negara di dunia. Energi, sebagai salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mutlak membutuhkan kondisi yang kondusif dalam hal akses, pengelolaan, dan distribusi.

Kondisi sebaran geografis sumber energi yang tidak merata di antara negara-negara di dunia menyebabkan tidak semua negara memiliki sumber daya energi dalam jumlah besar, bahkan beberapa negara seperti Singapura sama sekali tidak memiliki sumber daya energi.[8] Namun, kondisi ini menciptakan peluang kerjasama energi transnasional dan regional yang cukup besar, di samping juga akan menimbulkan persaingan antarnegara dalam hal akses terhadap sumber energi di negara/wilayah lain. Selain kondisi sebaran geografis yang tidak merata, penguasaan teknologi eksplorasi dan pengembangan sumber daya manusia dalam eksplorasi energi pun tidak tersebar secara merata. Tidak semua negara memiliki teknologi modern dan kemampuan dalam pengembangan sumber daya manusia untuk dijadikan tenaga ahli dan terlatih sebagai operator eksplorasi energi.

Ironisnya, sebagian besar negara yang memiliki sumber energi (cadangan minyak bumi) dalam jumlah besar adalah negara-negara berkembang, yang secara umum kurang menguasai teknologi eksplorasi modern serta minim tenaga ahli. Dari sepuluh besar negara yang memiliki sumber energi berlimpah (berturut-turut adalah Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Venezuela, Federasi Rusia, Kazakhstan, Libya, dan Nigeria), tercatat hanya Federasi Rusia yang berstatus sebagai negara maju, yang notabene telah memiliki teknologi modern dan banyak tenaga ahli.[9]

Sebagai contoh, ketergantungan energi Uni Eropa yang tinggi terhadap pasokan dari Federasi Rusia. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Uni Eropa bersama Amerika Serikat berencana untuk membangun jaringan distribusi energi melalui proyek East-West Energy Corridor dari Kaspia menuju Eropa, dengan memotong Iran dan Federasi Rusia.[10] Melalui proyek tersebut, Uni Eropa dan Amerika Serikat berambisi untuk mendapatkan suplai energi baru dari negara-negara di Asia Tengah. Dengan begitu, ketergantungan akan suplai energi dari Federasi Rusia dapat dikurangi. Selain itu, Uni Eropa dan Amerika Serikat membangun jaringan transmisi energi Nabucco (dari Erzunum, Turki menuju Bulgaria, Rumania, dan Hungaria sebelum berakhir di Baumgarten, Austria.[11]

Untuk mengantisipasi Nabucco, yang berpotensi mengganggu pasar energi Federasi Rusia di Eropa, Federasi Rusia melalui Gazprom bekerjasama dengan perusahaan energi swasta Italia Eni, membangun jaringan transmisi energi di “Jalur Selatan” dari Novorossiysk, Federasi Rusia melalui Laut Hitam menuju Bulgaria dan bercabang menuju Yunani dan Italia di Selatan serta Serbia, Hungaria, Slovenia, dan Austria di Utara.[12]

Pada awalnya, Pemerintah Federasi Rusia menyetujui rancangan Russian Energy Strategy 2020 pada 23 November 2000. Selanjutnya, revisi dokumen tersebut ditetapkan pada 22 Mei 2003.[13] Beberapa parameter kunci serta target jangka panjang dari dokumen tersebut disusun lebih detail dan ambisius, selain prioritas eksternal dalam pengembangan sektor energi.

Federasi Rusia adalah eksportir minyak bumi terbesar kedua dunia, serta berada dalam urutan pertama ekspor energi secara keseluruhan, termasuk gas alam dan minyak bumi serta batubara dan listrik. Revisi rancangan Russian Energy Strategy 2020 yang ditetapkan pada 22 Mei 2003 juga mencantumkan rencana target pertumbuhan tingkat ekspor energi Federasi Rusia selain ekspansi sektor energi, terutama di Asia.

Bagi Federasi Rusia, kerjasama energi yang dilakukan bersama ASEAN bertujuan untuk membuka, mengelola, dan mengamankan prospek jaringan energi Federasi Rusia di Kawasan Asia (terutama Asia Timur, termasuk Asia Tenggara). Secara lebih spesifik, tujuan Federasi Rusia melakukan kerjasama energi dengan ASEAN adalah: 1. Prioritas domestik Federasi Rusia dalam sektor energi, 2. Melalui kerjasama energi dengan ASEAN, Federasi Rusia berpotensi untuk menjadi supplier energi terbesar di dunia, 3. Kapasitas dan kemampuan ASEAN untuk memenuhi dan mendukung terwujudnya potensi tersebut.

Kawasan Asia Tenggara, yang sebagian besar negaranya, kecuali Singapura, adalah negara yang sedang berkembang, mengalami pasang surut pertumbuhan ekonomi selama lima belas tahun terakhir. Setelah krisis keuangan Asia pada 1997-1998, perekonomian negara-negara di Kawasan Asia tenggara mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini berimbas pada peningkatan konsumsi energi di wilayah tersebut.

Dengan potensi sumber energi yang cukup besar, ketergantungan yang tinggi akan impor energi, terutama dari Timur Tengah, secara langsung akan menghambat laju perumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan. Menyadari hal ini, ASEAN memulai usaha untuk memanfaatkan potensi sumber energi yang dimiliki melalui kerjasama energi dengan Federasi Rusia. Bagi ASEAN, tujuan kerjasama energi dengan Federasi Rusia terutama adalah mengurangi ketergantungan impor energi melalui pemanfaatan potensi sumber energi yang dimiliki, sehingga pertumbuhan tingkat perekonomian di Asia Tenggara tidak terhambat. Dengan begitu, jaminan keamanan energi kawasan dapat tercapai.

Selain itu, bagi ASEAN, tujuan lain dari kerjasama energi tersebut adalah untuk mendapatkan teknologi eksplorasi yang ramah lingkungan serta mobilisasi penggunaan sumber energi alternatif dan terbarukan sehingga dapat meminimalisasi kerusakan lingkungan, pencemaran, dan efek jangka panjang pemanasan global.

4.3.   Pasokan Energi Federasi Rusia

Permasalahan mengenai energi, terutama menyangkut sumber daya alam merupakan suatu masalah yang pelik bagi dunia pada masa sekarang, mengingat semakin menipisnya cadangan energi hidrokarbon (minyak bumi, gas alam) di dunia dan meningkatnya kebutuhan dunia akan energi tersebut. Ketergantungan suatu negara terhadap negara yang memiliki lebih banyak sumber daya alam ( minyak bumi, gas alam ) tidak dapat dihindari. Krisis energi ini sangat mempunyai efek terhadap perekonomian negara-negara yang bersangkutan, banyak terjadi resesi akibat dampak dari semakin meningkatnya biaya produksi yang dipengaruhi kecenderungan terus meningkatnya harga minyak. Sebagai negara produsen minyak non-OPEC terbesar dan kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi, dan memiliki sumber gas alam yang melimpah membuat Federasi Rusia menjadi salah satu negara super power di bidang energi. Federasi Rusia juga menjadi pemasok utama bagi Uni Eropa.

Dengan perkiraan yang menyebutkan bahwa puncak dari produksi minyak dunia akan terjadi kira-kira di antara tahun 2015-2033, kebutuhan energi dunia akan gas alam menjadi semakin meningkat dan mendesak. Posisi Federasi Rusia dalam memproduksi gas alam bahkan mempunyai pengaruh yang lebih penting dari kemampuan Federasi Rusia untuk memproduksi minyak. Federasi Rusia mengontrol sekitar 31 persen dari jumlah cadangan gas alam global, hal ini juga yang menjadikan gas alam Federasi Rusia mempunyai peran lebih penting dari minyak bumi Arab Saudi yang mengontrol sekitar 25 persen dari cadangan minyak global.[14] Gazprom, perusahaan gas Federasi Rusia sendiri, sampai saat ini, misalnya, diperkirakan dapat mengekspor 140.5 milyar metrik kubik gas dari jumlah total produksinya yaitu sebesar 545.1 milyar metrik kubik. Federasi Rusia saat ini mensuplai sekitar 26.1 persen dari kebutuhan Eropa akan gas. Diperkirakan oleh para analis bahwa pada tahun 2020, Eropa akan bergantung sampai 70 persen  pada pasokan gas dari Federasi Rusia.[15]

Strategi Energi Federasi Rusia

Pasca runtuhnya Uni Soviet, Pemerintah Federasi Rusia mulai merumuskan kebijakan energi yang baru. Pada bulan September 1992, pemerintah menyetujui RUU mengenai “Konsep Untuk Kebijakan Energi Baru Di bawah Kondisi Ekonomi Baru” yang dibuat untuk sampai tahun 2010. Kebijakan energi ini diformulasikan untuk memperlengkap Federasi Rusia dengan suplai energi yang dapat diandalkan, untuk memastikan dan mempertahankan keamanan dan kemerdekaan Federasi Rusia dan untuk memberi dukungan terhadap ekspor energi potensialnya. Kebijakan baru tersebut juga menekankan pada kebutuhan untuk mengembangkan material berbahan dasar mentah, meningkatkan efisiensi, dan mengembangkan  sumber daya yang dapat diperbaharui.[16]

Dari rumusan kebijakan energi baru Federasi Rusia ini dapat disimpulkan bahwa tujuan yang berkaitan dengan negara lain adalah untuk memperkuat posisi Federasi Rusia di pasar energi global dan memaksimalkan efisiensi potensi ekspor dari sektor energi serta untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan Federasi Rusia mempunyai akses yang sama ke pasar asing, teknologi, dan pembiayaan. Infrastruktur ekspor harus cukup di-diversifikasi untuk memungkinkan ekspor ke semua arah sebaik untuk digunakan di dalam pasar domestik. Federasi Rusia harus memanfaatkan lokasi geografis dan geopolitiknya yang unik itu. Faktor energi merupakan elemen yang fundamental di dalam diplomasi Federasi Rusia, di dalam realisasi strategi kebijakan energi luar negerinya,  di dalam dukungan domestik kepada kepentingan perusahaan energi Federasi Rusia di luar negeri dan di dalam dialog aktif mengenai energi dengan negara-negara CIS, Komunitas Ekonomi Eurasian, Uni Eropa, begitu juga dengan Amerika Serikat dan institusi internasional lainnya, seperti juga ASEAN. Salah satu tujuan utama dari strategi energi Federasi Rusia ini adalah untuk memastikan dan menjaga keamanan energi, di mana hal tersebut dijabarkan sebagai faktor yang paling penting di dalam keamanan nasional Federasi Rusia. Strategi energi ini tidak hanya menyebutkan tentang ancaman asing (geopolitik, makroekonomi, kondisi bisnis) namun juga persoalan domestik seperti bagaimana memfungsikan sektor energi nasional.

Strategi energi Federasi Rusia memaparkan objektivitas-objektivitas untuk mengamankan kepentingan politik Federasi Rusia di Eropa dan negara-negara tetangga dan di Kawasan Asia Pasifik dengan menggunakan gas alamnya dan keseluruhan dunia dengan menggunakan minyaknya. Strategi energi itu juga memuat objektivitas untuk tetap menjadi rekan yang stabil dan dapat diandalkan bagi negara-negara Eropa dan keseluruhan komunitas dunia yang berkaitan dengan ekspor energi. Menurut strategi energi tersebut, Pemerintah Federasi Rusia akan menentukan arah pengembangan infrastruktur transportasi hidrokarbon. Pelabuhan milik Federasi Rusia akan diutamakan dan negara akan mendukung proyek yang tujuannya adalah untuk transit minyak dari negara-negara CIS melalui Federasi Rusia. Strategi energi tersebut juga mengindikasikan kebutuhan akan adanya terminal pelabuhan ekspor yang bukan di bawah kontrol kekuatan asing. Strategi tersebut juga mengindikasikan bahwa Federasi Rusia harus membangun infrastruktur jalur pipa salurannya lebih lanjut di masa depan.

Lebih jauh, menurut strategi energi Federasi Rusia tersebut, ada tujuh hal yang harus dapat dilakukan oleh Federasi Rusia yaitu:[17]

  1. Menjadi eksportir energi,
  2. Mengeksploitasi sumber energi di negara lain,
  3. Meningkatkan partisipasi di dalam pasar energi domestik negara asing, dan meraih  kontrol terhadap infrastruktur dan sumber daya energi di negara-negara tersebut,
  4. Menarik minat investasi asing ke dalam sektor energi Federasi Rusia,
  5. Bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan energi negara tetangga,
  6. Sebagai transit dari ekspor energi,
  7. Kerjasama internasional dalam hal teknikal dan hukum.

Federasi Rusia juga berharap untuk dapat membangun semacam zona energi bersama di antara negara-negara CIS yang berpartisipasi. Bukan hanya hal ini dapat memastikan Federasi Rusia sebagai aktor utama di dalam sistem energi, namun juga dapat sangat menguntungkan secara ekonomi mengingat industri energi dan bahan bakar Federasi Rusia dan negara-negara CIS dibangun ke dalam sistem tunggal.

Strategi energi ini juga menunjukkan bahwa pembangunan di bidang ekspor listrik merupakan langkah dan tugas strategis bagi Federasi Rusia. Federasi Rusia harus menjaga kelengkapan dan membangun sistem energi tunggal negara dan mengintegrasikannya dengan perusahaan-perusahaan energi lain di Kawasan Eurasia. Untuk ekspor gas, Federasi Rusia melihat Kawasan Eropa Barat dan Eropa Tengah sebagai pasar utamanya. Amerika Serikat juga diproyeksikan sebagai pasar jangka panjang minyak Federasi Rusia.

Untuk pembangunan domestik, strategi energi ini mengindikasikan bahwa kawasan-kawasan dengan sumber energi yang berharga mahal dan suplai atau ketersediaan yang rendah seperti kawasan Baikal, Kaukasus Utara, Kaliningrad, Altai, akan dijadikan prioritas. Objek strategis dan konsumen sosial yang penting juga dijadikan prioritas.[18]

Selain dari strategi energi tersebut, masih ada beberapa dokumen kebijakan penting mengenai sektor energi. Seperti contoh, pada tahun 2000 Pemerintah Federasi Rusia membuat strategi energi nuklir baru. Hal ini dirumuskan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya nuklir, memodernkan dan memperpanjang usia reaktor nuklir yang telah ada. Pada tanggal 11 November 2003, Vladimir V. Putin menyetujui perubahan terhadap hukum federal “Rahasia Negara”. Hukum tersebut merahasiakan kuantitas dan volume cadangan minyak termasuk di dalamnya metode, lokasi dan jumlah pengangkatan, serta produksi dan konsumsi dari bahan bakar fosil Federasi Rusia.[19]

Program Dan Proyek Dalam Kerjasama Energi ASEAN-Federasi Rusia

Dalam kerjasama energi antara ASEAN dan Federasi Rusia, terdapat beberapa program dan proyek yang akan dan telah dilaksanakan oleh kedua pihak, sebagai berikut:

1. ASEAN-Russia Joint Cooperation Committee (ARJCC)

ASEAN-Russia Joint Cooperation Committee (ARJCC) merupakan badan yang bertanggung jawab dalam penyusunan program dan proyek yang akan dilaksanakan dalam kerjasama energi ASEAN-Federasi Rusia. ARJCC juga bertanggung jawab terhadap proses realisasi program dan proyek tersebut. ARJCC dibentuk pada 5-6 Juni 1997 di Moskow, Federasi Rusia.

2. ASEAN-Russian Federation Dialogue Partnership Financial Fund (DPFF)

ASEAN-Russian Federation Dialogue Partnership Financial Fund (DPFF) adalah badan yang dibentuk oleh ASEAN dan Federasi Rusia untuk mendanai proyek-proyek dalam kerjasama energi ASEAN dengan Federasi Rusia. Untuk mendanai badan ini, Pemerintah Federasi Rusia memberikan 750,000 USD sebagai dana operasional pada Juli 2009.[20] Selanjutnya, ASEAN-Russian Federation Dialogue Partnership Financial Fund (DPFF) membentuk ASEAN-Russia joint cooperation projects untuk mewadahi pelaksanaan proyek-proyek kerjasama energi ASEAN-Federasi Rusia.

3. Studi dan penelitian energi alternatif dan terbarukan untuk Kamboja, Myanmar,

Laos, dan Vietnam.

Studi ini telah dilaksanakan pada 22-23 Desember 2008 di Vientiane, Vietnam. Dalam kegiatan ini, para ilmuwan dan ahli di bidang energi alternatif dan terbarukan dari Federasi Rusia dan ASEAN saling bertukar informasi dan teknologi untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan negara-negara CMLV dalam sektor energi alternatif dan terbarukan. Selain negara-negara CMLV, kegiatan ini juga diikuti oleh negara-negara anggota ASEAN lainnya. ASEAN dan Federasi Rusia juga memaparkan perkembangan penelitian dan pengembangan energi alternatif dan terbarukan di wilayahnya masing-masing. Federasi Rusia juga mempresentasikan beberapa teknologi modern yang dimiliki dalam pembangunan pembangkit listrik serta produksi biofuel.

4. Menyelenggarakan konsultasi kerjasama energi.

5. Menawarkan kesempatan investasi dalam pengembangan infrastruktur

eksplorasi energi seperti minyak dan gas bumi secara komersial.

6. Melakukan pertukaran pengetahuan dan teknologi dari berbagai sektor energi.

7. Meningkatkan penggunaan sumber daya energi terbarukan dalam lingkup

komersial.

8. Memfasilitasi pelaksanaan efisiensi energi dan program konservasi.

9. Memfasilitasi program pemakaian energi yang efisien dan penggunaan

sumber daya energi terbarukan dan energi alternatif (matahari, angin, air laut,

air, geotermal, biomass) secara luas melalui pembangunan pembangkit,

pertukaran teknologi, serta riset dan pengembangan.

10. Mempromosikan teknologi eksplorasi yang ramah lingkungan.

11. Meningkatkan kerjasama di wilayah eksplorasi, produksi, transportasi, dan

penyulingan minyak dan gas alam serta produk jadi lainnya. Termasuk

pertukaran operasi minyak dan gas bumi.

12. Bekerjasama di bidang eksplorasi dan transportasi minyak dan gas bumi.

Prospek

Kawasan Asia Tenggara adalah salah satu kawasan yang memiliki potensi sumber daya dan pasar energi yang cukup besar, yang apabila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik dapat merubah lanskap ekonomi Kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. Potensi sumber daya energi berupa hidroelektrik di Indonesia, minyak bumi di Indonesia, Malaysia, dan Vietnam, gas alam di Indonesia dan Malaysia, serta batubara di Indonesia merupakan potensi keuntungan yang sangat besar.

Secara umum, konsumsi energi per kapita di Asia Tenggara tergolong sangat rendah dan tingkat produksi energi yang rendah menyebabkan pertumbuhan sektor energi di Asia Tenggara juga mengalami titik ekuilibrium yang rendah. Sebagai salah satu kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi, menyebabkan tingkat konsumsi dan permintaan energi di Asia Tenggara meningkat secara simultan. Kondisi pasar energi di Asia Tenggara, di mana konsumsi primernya mencapai 3.18 persen dari populasi sebesar 442 juta jiwa dengan GDP 663 milyar USD merupakan salah satu celah pasar energi yang sangat potensial bila dilihat dari total kapasitas terpasang pembangkit energi di Asia Tenggara yang saat ini hanya sebesar 76,562 MW.[21] Oleh karena itu, kebutuhan akan kerjasama energi untuk semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas energi kawasan mutlak diperlukan.

Bagi perekonomian Federasi Rusia, Minyak bumi dan gas alam adalah sektor yang sangat penting dan strategis. Pada 2008, tercatat ekspor minyak dan gas Federasi Rusia mencapai 310 milyar USD, 66 persen dari total komoditi ekspor Federasi Rusia.[22] Sektor energi Federasi Rusia telah memicu kebangkitan kekuatan dan pengaruh Federasi Rusia di dunia internasional, dengan pertumbuhan yang tinggi selama periode 2000-2007, setelah masa keterpurukan sebelum dekade 1990. Di sisi lain, selama sepuluh tahun terakhir harga minyak dunia terus melonjak dan permintaan serta persaingan pasar energi semakin ketat. Dengan demikian, diperlukan strategi energi yang kompetitif dan tepat untuk dapat bertahan di tengah gejolak krisis energi dan untuk memastikan stabilitas pertumbuhan ekonomi. Meskipun Federasi Rusia telah mendiversifikasi dan mengeluarkan kebijakan serta struktur ekonomi dan energi yang baru, tetapi diperlukan waktu yang tidak sedikit untuk merealisasikannya.

Bagi ASEAN, Federasi Rusia merupakan salah satu aktor penting dalam konteks isu-isu energi. Alasan utamanya adalah sampai saat ini ASEAN masih sangat bergantung kepada impor energi dari pasar energi global, terutama Timur Tengah, dan Federasi Rusia dapat secara signifikan mempengaruhi lanskap konsumsi energi ASEAN tersebut sehingga dapat meminimalisir ketergantungan terhadap impor energi melalui alih teknologi dan eksplorasi potensi energi di Asia Tenggara.

Alasan yang kedua adalah, potensi minyak dan gas yang sangat besar di Siberia Timur dan di Indonesia serta Malaysia. Yang secara geografis dapat saling terhubung melalui interkoneksi sistem jaringan pipa yang dimiliki oleh masing-masing pihak, sehingga dapat memotong jalur distribusi hampir setengahnya.

Federasi Rusia, sebagai salah satu produsen energi terbesar di dunia, memiliki kepentingan yang sangat besar dalam menjaring pasar energi baru di Kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara. Mengingat Federasi Rusia juga perlu memiliki akses terhadap sumber energi di Asia Tenggara untuk mengamankan dan menjaga stabilitas keamanan energi regional. Dengan dilakukannya kerjasama energi dengan ASEAN, Federasi Rusia memiliki kesempatan besar dalam hal ekspansi pasar energi di Kawasan Asia secara umum, dan di Asia Tenggara secara khusus. Dalam hal ini, Federasi Rusia telah berhasil mengamankan aksesnya ke salah satu kawasan sumber energi dan pasar energi paling potensial di Asia, yang secara berantai akan menyebabkan semakin kuatnya hegemoni Federasi Rusia di Kawasan Asia Tenggara.

Ketergantungan energi antara ASEAN dan Federasi Rusia lebih signifikan bila dibandingkan dengan perdagangan dan keamanan transportasi. Karena secara fundamental akan mempengaruhi struktur keamanan regional dalam jangka panjang. Evolusi Federasi Rusia sebagai salah satu stakeholder ASEAN yang terus berkembang, serta pertumbuhan ekonomi domestik Federasi Rusia yang dapat memicu peningkatan pertumbuhan ekonomi di kedua pihak, akan membantu pembangunan di Federasi Rusia dan ASEAN ke arah yang positif. Dengan kata lain, Asia Tenggara adalah salah satu kunci bagi Federasi Rusia untuk mengamankan posisinya di tingkat regional serta pengaruh global yang akan membantu menjaga stabilitas sektor-sektor strategis lainnya.

Kerjasama energi antara ASEAN dengan Federasi Rusia merupakan salah satu kerjasama strategis yang memiliki prospek yang cukup baik bagi kedua pihak dalam kerangka keamanan energi dan konteks pertumbuhan ekonomi. ASEAN dan Federasi Rusia sebagai mitra sejajar, memungkinkan prospek kerjasama energi yang dilakukan menuju ke arah positive sum, atau saling menguntungkan kedua pihak.


[1] http://oseafas.wordpress.com/2010/03/16/analisis-kerjasama-asean-rusia/. Akses terakhir pada

28 April 2010 pukul 13.02 WIB.

[2] http://oseafas.wordpress.com/2010/03/16/analisis-kerjasama-asean-rusia/. Akses terakhir pada

28 April 2010 pukul 13.02 WIB.

[3] http://oseafas.wordpress.com/2010/03/16/analisis-kerjasama-asean-rusia/. Akses terakhir pada

28 April 2010 pukul 13.02 WIB.

[4] http://oseafas.wordpress.com/2010/03/16/analisis-kerjasama-asean-rusia/. Akses terakhir pada

28 April 2010 pukul 13.02 WIB.

[5] http://oseafas.wordpress.com/2010/03/16/analisis-kerjasama-asean-rusia/. Akses terakhir pada

28 April 2010 pukul 13.02 WIB.

[6] Barry Buzan, Ole Waever, and Jaap de Wilde, Security: A New Framework for Analysis,

(London, Lynne Rienner Publisher Inc., 1998), hal. vii.

[7] http://oseafas.wordpress.com/2010/03/16/analisis-kerjasama-asean-rusia/. Akses terakhir pada

28 April 2010 pukul 13.02 WIB.

[8] The 2nd ASEAN Energy Demand Outlook, SOME-METI Programme on

Energy Supply Security Planning for the ASEAN (ESSPA), (The Energy Data and Modelling

Center The Institute of Energy Economic, ASEAN Center for Energy, National ESSPA Project

Teams, 2009), hal. 69.

[9] http://www.nationmaster.com/graph/ene_oil_pro_res_tho_mil_bar-proved-reserves-thousand-

million-barrels. Akses terakhir pada 29 April 2010 pukul 09.00 WIB.

[10] Jeffry Mankoff, Eurasian Energy Security, (The Council on Foreign Relations, 2009), hal. 19.

[11] Ibid.

[12] Ibid. hal. 20.

[13] Vladimir I. Ivanov, Russian Energy Strategy 2020: Balancing Europe with the Asia-Pasific

Region, (ERINA), hal. 1.

[14] Michael Fredholm, “The Russian Energy Strategy & Energy Policy: Pipeline Diplomacy or

Mutual Dependence?”, (Conflict Studies Research Centre, Defence Academy of the United

Kingdom, September 2005), hal. 2.

[15] Ibid.

[16] Ibid. hal. 3.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

[20] http://www.aseansec.org/5922.htm. Akses terakhir pada 30 Juni 2010 pukul 11.12 WIB.

[21] ASEAN Energy Market Conditions, dalam Seminar COGEN 3: A Business Facilitator”,

Malmo-Cannes-London, EC-ASEAN COGEN Programme Phase III.

[22] Dr. Ken Koyama, Energy Geo-politics of Russia and the Global Energy Security,

(Japan, Institute of Energy Economics, 2009), hal. 1.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: