Komunitas Asean 2015

25 06 2010


By Igor Dirgantara

A. Visi ASEAN 2020

Visi ASEAN 2020 di deklarasikan oleh para kepala negara-negara anggota Asosiasi bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN pada pertemuan informal asosiasi di Kuala Lumpur pada pertengahan tahun 1997, tidak diragukan lagi Visi ASEAN 2020 adalah bentuk optimisme dari para kepala negara anggota ASEAN.[1]

Dokumen ASEAN 2020 menyebutkan tujuan-tujuan dari kerjasama ASEAN dan menjadikan kawasan ASEAN pada dekade kedua Millenium sebagai kawasan yang mewujudkan wadah kerjasama negara-negara Asia Tenggara, yang hidup dalam perdamaian dan kemakmuran, menyatu dalam kemitraan yang dinamis dan komunitas yang saling peduli serta terintegrasi dalam pergaulan bangsa-bangsa didunia.[2]

Itu artinya ASEAN harus menyelesaikan segala bentuk perseteruan dalam diri ASEAN sendiri maupun diluar negara-negara anggota ASEAN. Dan membuat kawasan ASEAN sebagai kawasan bebas senjata nuklir  melalui zona bebas senjata nuklir melalui perjanjian SEANWFZ atau south east asia nuclear weapon free zone. Dan juga menjadikan kawasan ASEAN sebagai kaawasan yang mempunyai kompetensi dalam bidang teknologi tinggi yang dapat bersaing dengan negara-negara diluar kawasan Asia Tenggara. Dan ASEAN harus memerangi masalah paling pokok di kawasan Asia Tenggara yaitu kemiskinan dan senantiasa menjaga stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara khususnya pada ancaman kejahatan internasional dan perdagangan obat psikotropika.[3]

Rumusan dari Visi ASEAN 2020 pertama kali diluncurkan pada tahun 1996, disaat pertumbuhan ekonomi yang fenomenal melanda kawasan Asia Timur, termasuk sebagian Asia Tenggara, akan senantiasa berlangsung selamanya. Setelah itu para kepala negara-negara anggota ASEAN meneruskan dan mengesahkannya pada bulan Desember 1997, dimana krisis finansial tengah melanda kawasan Asia sejak beberapa bulan sebelumnya, tapi tidak mempengaruhi optimisme negara-negara anggota ASEAN, dan beranggapan krisis finansial yang melanda kawasan Asia pada tahun 1997 tidak akan memberikan dampak serius kepada kelanjutan Visi ASEAN 2020.

Setahun kemudian pada pertemuan ASEAN ke-enam di Hanoi, disaat puncak krisis kawasan Asia, para kepala negara kawasan Asia Tenggara mengeluarkan Hanoi Plan of  Action, adalah rencana term medium komprehensif yang dinisbahkan sebagai “Road Map” untuk mencapai tujuan-tujuan yang tercantum dalam Visi ASEAN 2020. Hanoi Plan of Action mewujudkan tanggapan atas krisis untuk mempercepat dan mengintensifkan untuk bekerjasama dalam mewujududkan kawasan ekonomi tunggal dan wilayah investasi. Hanoi Plan of Action juga merefleksikan optimisme dari Visi ASEAN 2020 dengan mengesahkan pencapaian tujuan lebih cepat dari yang ditargetkan semula.

Optimisme ini bukanlah optimisme tidak berdasar. ASEAN telah didirikan tahun 1967 disaat perang tengah terjadi di kawasan Asia Tenggara. Juga selama tiga dasawarsa setelah ASEAN didirikan, negara-negara ASEAN telah menikmati pertumbukan ekonomi yang diatas rata-rata negara lain di dunia. Melalui berbagai inisiatif dialog ASEAN menjadi kekuatan perdamaian, tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga dikawasan Asia-Pasifik.

Tetapi memang benar bahwa krisis ekonomi yang melanda ASEAN pada akhit tahun 90an sedikit banyak telah mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negar anggota ASEAN. Bahkan sekarang stabilitas ekonomi dikawasan Asia Tenggara sudah bangkit menjadi lebih baik dibanding pada akhir millenium lalu. Negara-negara ASEAN harus menjadikan krisis maha dahsyat itu sebagai pelajaran dan pengalaman yang berharga untuk kemajuan kawasan dimasa yang akan datang. Dan salah satunya adalah dengan menjalin relasi yang kuat dengan negara-negara Asia Timur untuk memastikan krisis finansial seperti itu tidak terulang lagi atau setidak-tidaknya jikapun terulang tidaklah sedahsyat pada akhir milenium itu.[4]

  1. B. Bali Concord II

Bali Concord II dilangsungkan di Bali pada tahun 2003. Pertemuan ini bertujuan lebih memantapkan lagi Visi ASEAN 2020 yang telah dideklarasikan pada tahun 1997. hasil terpenting dari pertemuan itu adalah Deklarasi Bali Concord II yang memimpikan tiga pilar utama diantara para anggotanya.

Ketiga pilar itu adalah Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN security community), Masyarakat Sosial Budaya ASEAN  (ASEAN socio-cultural community), lalu yang terakhir adalah adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN  econimic community).

Jika di lihat dari perspektif ekonomi, dalam 17 tahun, semua negara anggota ASEAN diharapkan sepakat untuk mengombinasikan kekuatan ekonomi masing-masing demi tercapainya keuntungan secara regional. Selain itu, kesepakatan tersebut juga memperkuat pedoman bagi arah yang jelas dalam kerjasama ASEAN yang dilandasi Visi ASEAN 2020, Hanoi Plan of Action, inisiatif integrasi ASEAN. Selain itu juga ada rencana pembentukan mata uang tunggal ASEAN yang bertujuan membentuk pasar tunggal ASEAN.[5] Sehingga kawasan ini menjadi kompetitif dan menarik bagi pelaku ekonomi ASEAN, Asia, bahkan dunia karena ASEAN memiliki jumlah penduduk lebih dari tiga ratus juta jiwa.

Hasil yang lainnya adalah ASEAN akan melanjutkan untuk meyakinkan proses integrasi diantara negara-negara anggota ASEAN dan masyarakatnya, mempromosikan kedamaian, stabilitas, keamanan, pembangunan, dan kemakmuran kawasan. Kunci dari promosi kedamaian dan stabilitas adalah TAC atau The Treaty of Amity ad Cooperation in South East Asia.

ASEAN Regional Forum tetap menjadi pionir utama negara-negara anggota ASEAN dalam menjalankan politik dan keamananya di kawasan. Juga ASEAN harus melanjutkan hubungan dengan tiga negara ASIA lainnya (ASEAN+3) yaitu Jepang, Korea Selatan dan Repulik Rakyat Cina. Serta ASEAN melanjutkan membangun komunitas yang saling peduli dan mempromosikan identitas kawasan.[6]

  1. C. Pilar-Pilar Bali Concord
    1. ASEAN Security Community

ASEAN berkehendak memperkokoh perdamaian dan stabilitas regional dengan berpegang pada prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa. Terlihat dengan ditandatanganinya deklarasi mengenai zona damai, bebas, dan netral di Asia Tenggara (ZOPFAN) 1971 dan perjanjian persahabatan dan kerja sama Asia Tenggara (TAC) 1976.

Komite ASEAN tersebut untuk menciptakan kawasan ASEAN yang aman dan damai, bebas dari campur tangan kekuatan-kekuatan dari luar kawasan, serta mengupayakan penyelesaian konfli-konflik melalui cara-cara damai yang bersahabat.

KTT ASEAN IV di Singapura menetapkan agar negara-negara anggota ASEAN meningkatkan upaya dalam kerjasama dibidang politik dan keamanan. Pada Juli 1993, ASEAN setuju untuk mendirikan forum regional ASEAN atau ASEAN Regional Forum sebagai forum untuk membahas masalah politik dan keamanan di wilayah Asia-Pasifik.[7]

  1. ASEAN Ekonomic Community

Sejak 1967, selain perlunya stabilitas politik, para pendiri ASEAN juga menekankan peningkatan pertumbuhan ekonomi dikawasan ini. ASEAN Concord  tahun 1967 antara lain menekankan salah satu tujuan utama untuk kerjasama secara lebih efektif dalam memanfaatkan pertanian dan industri, perluasan perdagangan, termasuk dalam menghadapi masalah-masalah perdagangan komoditi internasional, peningkatan sarana transportasi dan komunikasi, serta peningkatan taraf hidup masyarakat

Deklarasi Singapura 1992 menegaskan bahwa kerjasama ekonomi ASEAN tahun 199-an terus ditingkatkan, antara lain melalui peningkatan upaya-upaya bersama dalam meningkatkan kerjasama ekonomi, baik intra maupun ekstra ASEAN. Kerjasama ekonomi ASEAN meliputi peningkatan perdagangan dan pembangunan industri, investasi promosi wisata, transportasi dan komunikasi, keuangan dan perbankan, komoditi, pertanian, pengembangan lembah sungai Mekong, kehutanan, energi, dan mineral.[8]

  1. ASEAN Socio-Cultural Community

Kerjasama ASEAN dibidang sosial budaya bertujuan untuk mencapai tujuan besar Visi ASEAN 2020 yang menjadikan Asia Tenggara bersama dalam persahabatan dan komunitas yang peduli satu sama lain. Sebagai kelanjutan dari Deklarasi Bali Concord I 1976, akan membantu pembangunan standar kehidupan sosial masyarakat yang kurang beruntung. ASEAN juga akan mempersiapkan dan mengambil keuntungan dari integrasi ekonomi dengan menciptakan lebih banyak sarana pendidikan dasar dan tinggi, pelatihan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penyediaan lapangan kerja dan perlindungan sosial.

ASEAN akan memperhatikan kesehatan masyarakan secara lebih serius, termasuk pencegahan dan kontrol wabah penyakit seperti SARS dan HIV/AIDS serta yang terbaru yaitu Avian Influenza. Juga mempromosikan warisan budaya ASEAN dengan cara memelihara talenta dan mempromosikan interaksi sarjana, seniman, penulis dan praktisi media untuk membantu melestarikan budaya kawasan.

Dan yang terakhir adalan ASEAN akan meningkatkan kerjasama yang berhubungan dengan populasi penduduk, pengangguran, degradasi lingkungan dan polusi trans-batas.[9]

  1. D. Vientianne Action Plan

Vientiane Plan of Action atau VAP dicetuskan di ibu kota Laos, Vientianne, pada tanggal 29 November 2004. dengan tema menuju kemakmuran dan Keuntungan bersama-sama dalam komunitas ASEAN yang terintegrasi, damai dan peduli. Mengingat bahwa visi ASEAN 2020 melihat  ASEAN sebagai persetujuan bersama Negara-negara Asia Tenggara, melihat keluar, tinggal dalam kedamaian, stabilas dan kemakmuran, terikat pada kerjasama dalam pembangunan dinamis dan dalam komunitas masyarakat yang penuh kepedulian.[10]

Hanoi Plan of Action (HPA),  adalah seri rencana atau program tindakan yang pertama membawa pada tujuan akhir ASEAN vision 2020, berakhir pada 2004 dan rencana atau program pertama tersebut dibutuhkan untuk membimbing kemajuan pada ASEAN vision 2020. jadi VAP adalah kelanjutan dari Hanoi Plan of Action yang jangka waktunya telah habis.

Juga deklarasi ASEAN concord II yang menguraikan tema dari ASEAN vision 2020 dengan membuat milestone konkret untuk meraih tujuan dari komunitas ASEAN yang luas, diciptakan dengan tiga pilar dari kerjasama politik dan  keamanan, integrasi ekonomi, dan kerjasama kebudayaan sosial untuk membentuk komunitas keamanan ASEAN, komunitas ekonomi ASEAN, dan komunitas social budaya ASEAN pada tahun 2020.[11]

Serta  lingkungan ekonomi global dan regional telah berubah dan terus menerus mendapat tantangan dari pembangunan baru yang memiliki pengaruh terhadap perdagangan dan arus investasi dan daya saing ekonomis ASEAN dan bahwa ASEAN saat ini harus bkerja dalam konteks strategi yang baru.

VAP juga dimaksudkan untuk menyokong integrasi ASEAN yang semakin dalam dan semakin luas harus diiringi dengan kerjasama teknis dan  pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pembangunan antara Negara-negara anggota sehingga manfaat dari integrasi ASEAN dapat dinikmati bersama yang akan memungkinkan Negara anggota ASEAN untuk maju ke depan secara bersama dan erat.

Melalui VAP Negara-negara anggota ASEAN berkomitmen untuk untuk memperkuat usaha dalam mengurangi kesenjangan pembangunan Negara ASEAN dengan membangun inisiatif yang telah ada seperti Initiative for ASEAN Integration (IAI), Roadmap for the integration of ASEAN (RIA).

Para pemimpin Negara-negara anggota ASEAN bersepakat mendeklarasikan sepuluh butih garis-garis besar VAP, yaitu:[12]

  1. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN sepakat untuk mengejar integrasi komperensif Negara ASEAN menuju perealisasian dari komunitas ASEAN yang terbuka, dinamis dan resilient pada tahun 2020 seperti yang telah divisikan di Declaration os ASEAN conocord II dan annexes ASEAN dalam bentuk action plans dari ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Socio-cultural community (ASCC) dan rekomendasi atas angkatan (force) yang memiliki tugas tingkat tinggi dalam integrasi ekonomi ASEAN.
  2. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN akan mengatasi isu seputar pembangunan dan kebutuhan khusus Negara ASEAN dan area sub-regional ASEAN yang kurang berkembang dengan berbagai cara dan alat, termasuk mengimplementasikan konsep “prosper thy neighbour” dengan melembagakan (instituting) program untuk mengurangi kesenjangan pembangunan, mengurangi disparitas social ekonomi dan mengurangi kemiskinan  dan dengan begitu melangkah maju secara bersama dan erat untuk memakmurkan ASEAN. Kami menyadari kontribusi dari sub-regional arrangements seperti Brunei, Indonesia, Malaysia, Philipines, – East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA), Indonesia, Malaysia, Singapore-Growth Triangle (IMS-GT), ASEAN Mekong Basin Development Cooperation (AMBDC), Greater Mekong Sub-region (GMS) dan ayeyawady-Chao Phraya-Mekong Economic Cooperation Strategy (ACMECS) untuk mengurangi kesenjangan pembangunan dalam satu regional.
  3. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN akan memperkuat kerangka institusi ASEAN dalam struktur dan proses untuk memastikan bahwa kerangka itu dapat merespon tantangan dan kebutuhan akan moving towards ASEAN community, termasuk dalam hal kerjasama dan efisiensi dan juga dalam memperkuat stabillitasnya untuk membentuk event di Asia Tenggara dan di luarnya.[13]
  4. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN akan mengadopsi strategi hubungan eksternal yang outward-looking dengan partner dan teman dialog dalam membangun ASEAN yang damai, aman dan makmur, memperkuat hubungan ekonomi dan memperdalam kerjasama social budaya dengan Asia Timur dan di luarnya.
  5. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN menyadari kebutuhan untuk memperkuat ASEAN dan akam bekerja untuk pembangunan ASEAN charter.
  6. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN akan, pertama-tama dan yang paling penting, bekerjasama antara anggota dan juga dengan partner dialog serta pihak lain yang ingin bekerja sama dengan ASEAN berdasarkan kesetaraan , non-diskriminasi dan manfaat yang mutual untuk menghasilkan sumberdaya kami sendiri , untuk membangun jembatan antara sector public dan sector lainnya dalam masyarakat dalam dan di luar ASEAN untuk memfasilitasi sinergi pengalaman, keahlian dan sumberdaya yang tersedia untuk tercapainya komunitas ASEAN.
  7. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN  akan mempromosikan warisan budaya ASEAN sebagai ekspresi kreatif dari semangan ASEAN dan sebagai dasar untuk menciptakan ikatan atas identitas regional ASEAN karena warisan budaya tersebut berasal dari ikatan yang sama dari sejarah dan dari aspirasi yang sama-sama dimiliki atas kedamaian dan kesejahteraan.
  8. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN menyetujui VAP, pendahulu HPA, untuk diimplementasikan pada tahun 2004-2010, sebagai instrument untuk mempersatukan dan menghubungkan tujuan dan strategi dari tiga pilar dan program yang dibangum untuk merealisasikan tujuan dari ASEAN vision 2020.[14]
  9. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa proses menuju pencapaian komunitas ASEAN terus menerus berkembang, VAP maka dari itu seharusnya dianggap sebagai dokumen yang berkembang. Karenanya, daftar aktivitas yang dirasa dapat diimplementasikan pada tahun 2004-2010 seperti yang tercantum dalam penggabungan yang beragam pada VAP adalah non exhaustive (tidak lengkap), dan
  10. Para Kepala Negara-negara anggota ASEAN berkomitmen  untuk mengimplementasikan VAP dengan memperhatikan dua dimensinya, yang pertama menjadi integrasi yang lebih luas dari 10 negara anggota kedalam satu komunitas ASEAN yang erat, dan yang kedua menjadi indentifikasi dari strategi baru untuk memperkecil kesenjangan pembangunan untuk mempercepat tahap integrasi dan bekerjasama antara Negara ASEAN dan partner dialog dan alinnya, untuk menggerakkan kemauan politis dan menghasilkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk pengimplementasian VAP yang efektif.[15]
  1. E. Komunitas ASEAN 2015

Potensi-potensi Ekstra regional maupun intra regional dan intra ASEAN, mrupakan tantangan-tantangan yang besar bagi indonesia dan ASEAN. Upaya menciptakan stabilitas dan keamanan di kawasan Asia-Pasikif dan Asia Tenggara merupakan tantangan yang cukup rumit. Untuk itu, diperlukan suatu bentuk pengaturan keamanan yang tepat untuk kawasan ini. Tantangan tersebut semakin besar, karena dengan bertambahnya negara-negara anggota ASEAN menjadi 10 negara. Oleh sebab itu, Indonesia bersama ASEAN harus dapat berinisiatif untuk membahas masalah keamanan regional adar terhindar dari campur tangan negara-negara diluar anggota ASEAN. Pengaturan keamanan yang ingin dicapai oleh negara-negara anggota ASEAN dapat dicapai melaui kerjasama politik.secara tidak resma kerjasama politik tersebut telah dimulai oleh negara-negara anggota ASEAN dalam usaha-usaha mengatasi persoalan-persoalan yang timbul diantara mereka, kerjasama ini terus berkembang diantara negara-negara anggota ASEAN dalam pertemuan-pertemuan khusus Menteri-Menteri Luar Negeri ASEAN yang diadakan satu tahun sekali.

Pertemuan-pertemuan tersebut diselenggarakan untuk membicarakan masalah tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh ASEAN ini, dan arah yang jelas mengenai cara-cara mencapai tujuan-tujuan strategis seperti tertuang dalam Deklarasi Bangkok tahun 1967, Deklarasi Kuala Lumpur tentang ZOPFAN tahun 1971 dan Treaty of amity cooperation tahun 1976. Deklarasi Kuala Lumpur mengenai ZOPFAN itu sendiri lahir karena meningkatnya perang Vietnam merupakan cerminan dari turut campurnya negara-negara besar dalam persengketan di wilayah ini. Dalam situasi seperti itu, terutama penarikan pasukan britania dari Malaysia dan Singapura, telah mendorong Malaysia untuk mencetuskan gagasan ZOPFAN. Kekhawatiran akan kekuatan lain yang akan mengisi kawasan ini mendorong negara-negara anggota ASEAN mendukung ZOPFAN. Kekhawatiran akan campur tangan luar ini terlihat dari apa yang dinyatakan dalam Deklarasi Kuala Lumpur 1971 tentang ZOPFAN bahwa negara-negara anggota ASEAN bertekad untuk melakukan usaha-usaha awal yang perlu untuk memperoleh pengakuan dan penghormatan bagi Asia Tenggara sebagai zona damai, bebas, netral dari setiap macam bentuk dan campur tangan dari luar.

Gagasan ZOPFAN telah diterima ASEAN sebagai suatu keinginan untuk mencapai tertib regional dalam menciptakan hubungan –hubungan yang positif, stabildan damai, tidak hanya antara negara-negara anggota ASEAN, tetapi juga antara negara-negara anggota ASEAN dengan negara-negara Indocina. Lingkunngan yang stabil akan menetralisir dari tekanan negara-negara besar.[16]

Pada tahun 1976, kerjasama politik ASEAN dinyatakan secara resmi dalam pertemuan puncak Bali dengan dihasilkannya tiga dokmen, masing-masing Deklarasi ASEAN Concord, The Treaty of amity and ccoperation in South East Asia, dan pembentukan sekretariat ASEAN di Jakarta. Untuk mencapai stabilitas politik dan perdamaian,  ASEAN telah menggariskan program kegiatan politik sebagai kerangka kerjasama politik ASEAN, yaitu:[17]

  1. Pertemuan Kepala-Kepala Pemerintahan negara-negara anggota ASEAN apabila dan bilamana dibutuhkan
  2. Penandatanganan perjanjian persahabatan dan kerjasama di Asia Tenggara
  3. penyelesaian persengketaan intra regional dengan cara-cara damai dalam waktu sesingkat-singkatnya
  4. Perhatian segera bagi langkah-langkah permulaan ke arah pengakuan dan penghormatan atas wilayah damai, bebas dan dan netral (ZOPFAN) bilamana mungkin.
  5. Penyempurnaan organisasi ASEAN untuk memperkuat kerjasama politik.
  6. Penelitian cara-cara mengembangkan kerja sama dalam bidang pelaksanaan peradilan termasuk kemungkinan bagi perjanjian ekstradisi ASEAN
  7. Memperkokoh solidaritas politik dengan memajukan keserasian pandangan, mengkoordinasikan posisi, dan, jika mungkin dan dikehendaki, mengambil langkah-langkah bersama.

Pencapaian komunitas ASEAN semakin kuat dengan ditandatanganinya Cebu Declaration on the Acceleration of the Establishement of an ASEAN Community 2015 oleh para pemimpin ASEAN pada KTT ke 12 ASEAN di Cebu, Filipina, 13 Januari 2007. Dengan ditandatanganinya deklarasi ini, para pemimpin ASEAN menyepakati percepatan pembentukan komunitas ASEAN dari tahun 2020 menjadi tahun 2015. Seiring dengan upaya perwujudan komunitas ASEAN, ASEAN menyepakati untuk menyusun semacam konstitusi yang akan menjadi landasan dalam penguatan kerjasamanya. Dalam kaitan ini, proses penyusunan Piagam ASEAN (Asean Charter) dimulai sejak tahun 2006 melalui pembentukan Eminent Persons Group dan kemudian dilanjutkan oleh High Level Task Force untuk melakukan negosiasi terhadap Draf Piagam ASEAN pada tahun 2007. Dalam rangka mencapai komunitas ASEAN 2015, ASEAN juga menyusun blueprint (Cetak Biru) dari ketiga pilar komunitas politik keamanan, ekonomi, dan sosial budaya, yang merupakan program aksi untuk memperkuat kerjasamanya.

Setelah melalui proses internal di masing-masing negara anggota, Piagam ASEAN telah diratifikasi dan disampaikan instrumen ratifikasinya kepada Sekjen ASEAN sehingga 30 hari sejak penyerahan ke 10 instrumen reatifikasi, Piagam ASEAN mulai berlaku. Dalam kaitan ini, Piagam ASEAN mulai berlaku pada tanggal 15 Desember 2008. Indonesia merupakan negara ke 9 yang menyampaikan instrumen ratifikasinya.

ASEAN mempunyai potensi untuk menjadi komunitas keamanan di kawasan Asia Tenggara. Hal ini diakui oleh para akademisi dan para pengambil keputusan baik didalam maupun diluar kawasan. Salah satunya adalah kajian bahwa ASEAN dianggap sebagai sebuah komunitas keamanan yang pluralistik, dimana masing-masing anggotanya tetap mempertahankan kedaulatannya. Pemahaman bahwa ASEAN menjadi komunitas keamanan lebih didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada satupun anggotanya yang menggunakan kekuatan bersenjata atau anggapan perlunya digunakannya kekuatan militer dalam menyelesaikan konflik di kawasan.[18] Sedangkan  Michael Leifer sepakat bahwa ASEAN memang sebuah komunitas keamanan karena kemampuannya untuk mencegah konflik  intra-mural dari kemungkinan eskalasi konfrontasi bersenjata untuk menjadi komunitas politik.[19] Kenyataan bahwa ketiadaan perang diantara negara-negara anggota ASEAN sejak organisasi tersebut didirikan tahun 1967 merupakan prestasi terbesar ASEAN dalam mengatur interaksi damai didalam kawasan.

Pembentukan Komunitas ASEAN 2015 adalah sebuah usaha dari negara-negara anggota ASEAN untuk menciptakan mekanisme baru dalam pengaturan keamanan kawasan pasca perang dingin secara internal agar keseimbangan dalam kerjasama ASEAN (ekonomi dan keamanan) di masa depan dapat terus terjaga. Namun setelah lima tahun sejak Bali Concord II digulirkan, belum juga muncul inisiatif yang dijalankan secara efektif terutama yang berkaitan dengan rencana aksi (plan of action) ASEAN Security Community (ASC) yang dicanangkan pada KTT ke-10 ASEAN di Vientiane, Laos, tahun 2004 yang berisikan komponen-komponen political development, shaping and sharing of norms, conflict prevention, dan post conflict peace building. Implementasi 2 komponen plan of action sampai tahun 2009 hanya dilakukan pada persoalan conflict prevention dan shaping and sharing of norms. Komponen shaping and sharing of norms ditandai oleh penyusunan Piagam ASEAN (ASEAN Charter) pada KTT ke-13 ASEAN di Singapura, Nopember 2007 dan Pembentukan Badan HAM ASEAN. Selain itu treaty on mutual legal assistance in criminal matters (MLAT), yang telah ditandatangani oleh seluruh anggota ASEAN memberikan peluang untuk mendukung kerjasama hukum yang lebih kongkrit, terutama dalam pemberitan bantuan hukum timbal balik dibidang pidana. Komponen conflict prevention antara lain ditandai oleh keberhasilan ASEAN menyelenggarakan ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) di tahun 2006 dan menghasilkan ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT) yang menyediakan dasar hukum bagi kerjasama kawasan dibidang pemberantasan terorisme.  Selama ini, ASEAN dinilai berhasil dalam mekanisme membangun rasa saling percaya (confidence building measure) di kawasan, termasuk ketaatan negara-negara anggotanya pada kode etik (code of conduct), dalam menyelesaikan konflik dengan cara-cara damai sebagaimana yang tertuang di dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Namun, ASEAN belum mampu menyelesaikan konflik internalnya sendiri, seperti terlihat dalam kasus Sipadan & Ligitan (Indonesia-Malaysia) dan Kuil Preah Vihear (Thailand-Kamboja), dimana salah satu pihak yang bersengketa menyerahkannya untuk diselesaikan lewat pihak ketiga, baik Mahkamah Internasional ataupun PBB.

Mungkin semua plan of action untuk mencapai Komunitas ASEAN 2015  bisa dilaksanakan secara tuntas bila ASEAN meninggalkan, gaya dan kebiasaan ASEAN (ASEAN Way) yang menekankan pada prinsip non interference, state sovereignty, dan konsensus dalam penyelesaian masalahnya yang cenderung memakan waktu lama dan tidak efektif. Prinsip-prinsip itu perlu di reinterpretasi secara lebih fleksibel dalam dunia yang semakin interdependen. Belum lagi adanya kesepakatan terhadap Human Security sebagai sebuah ancaman bersama yang memerlukan komitmen kuat terhadap Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu,   pembentukan Badan HAM ASEAN (ASEAN Human Right Body) sebagaimana yang nanti diamanantkan di dalam ASEAN Charter (Piagam ASEAN) menjadi signifikan dalam upaya Negara-negara Asia Tenggara untuk mewujudkan Komunitas ASEAN 2015.


[1] A. Kardiyat Wiharyanto, ASEAN dan Gagasan Pembentukan ASC , Suara Pembaharuan, 14 Agustus 2003.

[2] Rene L. Patti Radjawane, Merumuskan Siapa Lawan dalam Masalah Keamanan ASEAN, Kompas, 16 September 2003

[3] ASEAN Vision 2020 and The Hanoi Plan of Action can ASEAN Deliver ? Jakarta, Deplu RI 2004, hal. 1-2.

[4] Ibid, hal. 3

[5] http://www.bexi.co.id/images/_res/exim-Bali%20Concord%20II,%20Meretas%20Jalan%20Pasar%20Tunggal%20ASEAN.pdf

[6] ASEAN Documents Series VAP (Vientianne Action Programme) 2004-2010, Jakarta ASEAN Sekretariat 2005, hal 3

[7] Ibid

[8] Kompas, 8 Oktober 2003, Republika 8 Oktober 2003, Suara Karya 8 Oktober 2003, dan Bisnis Indonesia 6 Oktober 2003.

[9] Ibid

[10] ASEAN Documents Series VAP (Vientianne Action Programme) 2004-2010, Op. Cit., hal. 7-8.

[11] Jakarta Post, 8 Oktober 2003.

[12] ASEAN Documents Series VAP (Vientianne Action Programme) 2004-2010, Op. Cit.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Jusuf Wanadi, ZOPFAN and the Kampuchean Conflict, Indonesian Quarterly XII, No. 2 (April 1085) : 206-207.

[17] ASEAN Secretariat, ASEAN Documents Series 1967-1986 (Jakarta : ASEAN Secretariat 1988), hal. 32.

[18] Sheldon Simon, The Regionalization of Defense in Southeast Asia, Pacific Review, Vol. 5, No. 2, 1999, hal. 122.

[19] Michael Leifer, ASEAN as a model of a security community ?, dalam Hadi Soesastro (ed.), ASEAN in a changed regional and International Economy, Jakarta, CSIS, 1995, hal. 129-132.

About these ads

Actions

Information

One response

8 09 2011
Laskar Blogger Sebagai Pendorong dan Pengawal Komunitas ASEAN 2015 « sindhuisme

[...] agar keseimbangan dalam kerjasama ASEAN (ekonomi dan keamanan) di masa depan dapat terus terjaga (Igor Dirgantara, 25 Juni 2010). Hal ini sesungguhnya sesuai dengan alasan awal berdirinya ASEAN [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: