Kemitraan Strategis Cina -Rusia

16 03 2010

by : Igor Dirgantara

Ada peningkatan kemitraan strategis China-Rusia yang telah diawali tanggal 30 juni 2005, dimana kedua pihak melakukan upaya bersama untuk meningkatkan kepercayaan politik, memperluas kerjasama di bidang ekonomi, perdagangan, enerji, ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatkan kerjasama dalam masalah kemanusiaan dan juga meningkatkan kerjasama di antara propinsi. Kedua negara juga sepakat meningkatkan perdagangan dua-arah antara US$60 miliar hingga US$80 miliar pada 2010. Kedua negara juga saling mendukung pada masalah yang menyangkut kedaulatan nasional dan integritas wilayah, dan melakukan koordinasi yang efektif untuk menjamin keamanan kawasan dan internasional, apalagi terkait masalah di perbatasan kedua Negara, termasuk masalah separatisme. Partner utama Rusia di kawasan Asia adalah Cina. Kedua negara tersebut, seperti yang telah dikatakan di Moscow dan Beijing, mengembangkan kemitraan strategis yang didasari oleh persamaan hak dan saling percaya. Kontak diantara kedua pemimpin negara tersebut menjadi rutin – pertemuan diadakan tidak kurang daripada tiga kali dalam setahun. Posisi kunci dalam hubungan kedua belah pihak terletak pada dua pertemuan – summit Rusia dan Cina terakhir – kunjungan Presiden Federasi Rusia V.V. Putin ke Cina pada 14-16 Oktober 2004, dan juga kunjungan Pemimpin RRC ke Rusia pada 30 Juni – 3 Juli 2005. Pada tanggal 3-4 Oktober Perdana Menteri Rusia, M.E. Fradkov, mengunjungi Cina. Suatu pertanda yang penting pada tahun 2005 adalah ratifikasi oleh kedua negara tersebut Persetujuan Tambahan Rusia-Cina mengenai perbatasan diantara kedua negara di bagian timurnya yang menuntaskan dan menutup perselisihan mengenai perbatasan yang selama ini menjadi kendala dalam hubungan Rusia dan Cina.

Menurut hasil tahun 2004 volume perdagangan timbal balik pertama kali akan melebihi 20 milyar Dollar. Kenaikan perdagangan timbal balik terlihat pula pada tahun berjalan, hal mana yang telah dikatakan oleh mass media Rusia, menjadi dasar perhitungan bahwa pada akhir tahun ini perdagangan Rusia – Cina akan melampui 27 milyar dollar. Sedang diselesaikannya dengan sukses pembangunan tahap pertama PTLA di Tyanvan. Beberapa bidang yang paling perspektif dalam kerjasama Rusia – Cina adalah peralatan energi, teknik penerbangan sipil, penerapan bersama teknologi moderen termasuk bio-teknologi, teknologi pengiritan sumber daya, IT – teknologi dsb., apalagi bidang militer – sudah lama sekali Rusia dan Cina saling terikat dengan hubungan kemitraan dalam bidang ini. Investasi Cina kedalam ekonomi Rusia mengalami kenaikan juga.

Penandatanganan paket perjanjian kerjasama minyak antara China dan Rusia serta dimulainya proyek jaringan pipa minyak menjadikan suatu penyelesaian kerjasama energi mereka, bisa di lihat mewakili suatu kerjasama kemitraan strategis Rusia-China. Berdasarkan perjanjian yang di capai ke dua negara, China dan Rusia akan bersama-sama membangun dan mengoperasikan jaringan pipa minyak dari kota Siberia Rusia, Skovorodino ke kota timur laut China Gawing sebagai terminalnya melalui kota perbatasan China Mohe. Jaringan pipa tersebut, yang mempunyai kapasitas tahunan 15 juta ton minyak mentah ke China dalam 20 tahun, diperkirakan memasuki operasional pada Oktober 2010. Menyusul latihan militer bersama Rusia-Cina yang pertama, bulan Agustus 2005 menteri pertahanan dari kedua negara itu menyatakan sebagai bentuk perluasan kemitraan strategis antara negara mereka, walaupun ini bukan merupakan pembentukan sebuah blok militer baru, kata Menteri Pertahanan Rusia Sergej Ivanov seusai pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Cina Cao Gangchuan di Moskow. Kemitraan tersebut diharapkan akan lebih diperkuat melalui latihan-latihan militer bersama selanjutnya. Lebih jauh Presiden Tiongkok, Hu Jintao pada tanggal 17 Juni 2009 telah mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia, Dmitri Medvedev di Moskow. Kedua pihak telah mencapai pengertian bersama mengenai pertukaran dan kerja sama di bidang-bidang politik, ekonomi, perdagangan, iptek dan humaniora serta koordinasi dan kerja sama dalam urusan regional dan internasional yang penting.

Seusai pertemuan kemarin sore waktu setempat, Presiden Tiongkok, Hu Jintao dan Presiden Rusia, Medvedev bersama-sama menghadiri upacara penandatanganan. Tiongkok dan Rusia menandatangani memorandum pengertian bersama (MoU) mengenai kerjasama di bidang gas alam dan batu bara, serta beberapa dokumen yang lain, antara lain persetujuan kerangka kredit sejumlah 700 juta dolar AS antara Bank Ekspor-impor Tiongkok dan Bank Ekonomi Luar Negeri Rusia. Medvedev mengatakan: “Pembicaraan antara kami dengan delegasi Republik Rakyat Tiongkok yang dipimpin oleh Presiden Hu Jintao berlangsung dalam suasana bersahabat, konstruktif dan saling percaya. Ini juga memanifestasikan kemitraan kerja sama strategis Rusia-Tiongkok serta keinginan kedua negara mengembangkan hubungan kedua negara di atas dasar rukun tetangga dan bersahabat, saling percaya dan saling menguntungkan. Menjelang genap 60 penggalangan hubungan diplomatik Rusia-Tiongkok, kami telah menyusun tugas kongkrit dan menetapkan arah utama perkembangan hubungan bilateral.”

Tahun ini genap 60 tahun penggalangan hubungan diplomatik Tiongkok-Rusia. Kepala kedua negara dalam pembicaraan kemarin meninjau kembali proses perkembangan hubungan Tiongkok-Rusia selama 60 tahun ini. Untuk itu, Presiden Hu Jintao menyimpulkan 4 butir inspirasi. Dikatakannya: “Pertama, hanya saling percaya dan saling memperlakukan dengan tulus hati baru dapat terus memperdalam hubungan politik kedua negara; kedua, hanya saling menghormati, sama derajat dan saling menguntungkan baru dapat mewujudkan perkembangan dan kemakmuran bersama dalam kerjasama pragmatis; ke-3, hanya saling mengerti dan saling mendukung dalam masalah-masalah yang menyangkut kepentingan vital pihak lain baru dapat dengan efektif menjaga kepentingan mendasar masing-masing; dan ke-4; hanya mengesampingkan perbedaan dan mencari kesamaan, berkonsultasi secara bersahabat baru dapat menjamin hubungan kedua negara berkembang secara sehat dan stabil dalam jangka panjang.”

Hu Jintao dalam pembicaraan menekankan pula bahwa kemitraan kerja sama strategis telah berpijak pada titik tolak sejarah yang baru. Hanya kedua pihak menguasai peluang, maju bersama dengan bergantengan tangan, dan secara menyeluruh memperdalam kerja sama strategis, masa depan kemitraan kerja sama strategis Tiongkok-Rusia pasti menjadi lebih cerah. Hu Jintao mengemukakan, untuk menjamin hubungan kedua negara berkembang dengan lebih baik dan pesat, Tiongkok dan Rusia seharusnya senantiasa mempertahankan 3 prinsip yaitu saling percaya, mementingkan situasi besar dan memandang dari jangka panjang. Ditekankannya, kemitraan kerja sama strategis Tiongkok-Rusia adalah arah penting yang diprioritaskan dalam hubungan luar negeri Tiongkok, meningkatkan hubungan bersahabat dan rukun tetangga dan memperdalam kerja sama strategis dengan Rusia adalah pedoman yang dipertahankan oleh Tiongkok dengan teguh tak tergoyahkan baik pada masa lampau, sekarang maupun masa depan. Kedua negara mempunyai pengertian bersama yang luas dalam masalah-masalah penting, tapi karena keadaan negeri Tiongkok dan Rusia berlainan, , adalah normal kedua negara berselisih pendapat dalam sejumlah masalah kongkrit, dan penanganan masalah terkait harus bertolak dari situasi besar hubungan kedua negara.

Kepala kedua negara juga menekankan bahwa dalam situasi internasional dewasa ini, kedua pihak seharusnya meningkatkan kerja sama di bidang-bidang ekonomi, perdagangan, energi dan daerah, sementara juga harus mengintensifkan komunikasi dan koordinasi di arena internasional. Untuk itu, dalam jumpa pers bersama dengan Medvedev, Hu Jintao menyatakan:

“Kami berpendapat bahwa adalah sangat efektif kerja sama antara Tiongkok dan Rusia dalam urusan internasional. Kedua pihak bersedia terus mengintensifkan koordinasi dan kerja sama dalam kerangka organisasi multilateral internasional dan regional antara lain PBB dan Organisasi Kerjasama Shanghai SCO, dan bersama-sama memelihara perdamaian dan kestabilan di kawasannya bahkan seluruh dunia.”

Di masa depan, Presiden China Hu Jintao sepertinya akan terus berusaha menjalin hubungan bersahabat dengan Rusia saat kunjungan kenegaraannya ke Rusia, walaupun hubungan tersebut sebenarnya masih ditandai oleh persaingan yang tidak habis-habisnya. Selama kekuasaan Mao Zedong, China berada di bawah kekuasaan Uni Soviet, tapi kini peran itu terbalik – China yang terus bangkit kini telah menjadi negara ekonomi terbesar ketiga di dunia, jauh meninggalkan Rusia yang berada di posisi ke delapan. Moskow masih mempertahankan keunggulannya di beberapa sektor, termasuk penangkis nuklir, persenjataan militer dan angkasa luar. Namun demikian kedua negara terus bekerja bersama dalam sejumlah isu besar, mulai dari perundingan tentang program nuklir Iran dan Korea Utara hingga Timur Tengah, Sudan, isu non-proliferasi dan reformasi PBB.

Pandangan dunia mereka yang bersesuaian – keduanya menyerukan kepada dunia internasional agar menolak kekuasaan AS di pentas internasional – rencananya dikemukakan pada KTT pertama negara-negara yang tergabung di dalam BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) di Rusia pada Agustus 2009.

Sejak dijalinnya “kemitraan strategis” tahun 1996 – yang pertama untuk China – dan penandatangan perjanjian persahabatan tahun 2001, “hubungan kedua negara semakin berkembang di hampir semua sector. Beijing dan Moskow yang memulihkan hubungan mereka tahun 1989, menandatangani persetujuan tahun 2004 yang menetapkan akhir dari pertikaian mereka yang rumit menyangkut perbatasan mereka sepanjang 4.250 kilometer. Sementara pihak Barat mempertahankan embargo senjata terhadap Beijing, Rusia telah menjadi pemasok utama segala keperluan militer China, bahkan walau penjualan merosot dalam lima tahun terakhir. Hubungan dagang juga berkembang pesat antara kedua belah pihak, walau tidak sampai pada tingkat yang sama sebagaimana hubungan diplomatik, dengan perdagangan bilateralnya mencapai sekitar $50 miliar tahun 2008. Di sektor energi, Beijing dan Moskow sudah mengikat persetujuan untuk pengiriman minyak mentah Rusia ke China melalui jalur pipa Siberia-Pasifik. Walau adanya kerjasama di semua sektor itu, namun persaingan dan saling curiga masih saja ada diantara mereka.Moskow kini memandang Beijing dengan “campuran antara kekaguman, kecemburuan, kegelisahan dan kejengkelan,” kata Jean-Pierre Cabestan, pakar China dan pengarang buku tentang hubungan China-Rusia.

Moskow merasa terganggu oleh “ketenteraman dan kedamaian kekuatan (yang dimiliki China) seperti itu… disamping ketidakmampuan ekonomi Rusia untuk bangkit hingga paling tidak termasuk dalam lima negara ekonomi terbesar di dunia,” katanya. Di Asia Tengah, arena tradisional dimana persaingan mereka berlangsung, kedua negara berkompetisi untuk akses ke cadangan minyak dan gas yang menguntungkan di kawasan itu, kata pakar tadi. Rusia bersikap waspada dan hati-hati terhadap hubungan ekonomi dan diplomatik China yang kuat dengan negara-negara yang pernah menjadi bagian dari lingkungan pengaruh Moskow. Moskow juga prihatin terhadap apa yang dianggapnya sebagai ancaman imigrasi China – tidak hanya kepada kawasan Timur Jauh Rusia, tapi juga terhadap bagian Rusia di Eropa. Rusia terutama juga kuatir terhadap kepentingan China yang haus energi terhadap bahan-bahan mentah kawasan itu, dengan Beijing dipandang oleh sejumlah pihak Rusia sebagai “perampas” sumberdaya energi nasionalnya. Di sisi lain, China, sebagaimana negara-negara Eropa, memandang Rusia sebagai mitra energi yang agak kurang dapat dipercaya. Hubungan kedua negara menjadi semakin rumit dengan adanya kenyataan bahwa Beijing dan Moskow sama-sama memusatkan perhatian kepada upaya menggalang hubungan dengan Amerika Serikat.

About these ads

Actions

Information




%d bloggers like this: