Gerakan Islam Pasca Amrozy Cs

16 02 2010

by Igor Dirgantara

Amrozi cs sudah dihukum mati. Dengan biaya Rp 22 miliar dari pemerintah Australia, ketiga  terpidana Bom Bali ini dieksekusi dengan mata terbuka di Nusakambangan. Ribuan orang berdesak-desak menghadiri pemakaman ketiganya. Perlu dipertanyakan bantuan dari negara anteknya AS tersebut yang sebenarnya sudah mengeluarkan Undang-Undang penghapusan hukuman mati pada tahun 1973. Dukungan pemerintah Australia atas vonis mati terhadap Amrozi cs sangat aneh. Mereka menolak menerapkan hukuman mati di negerinya sendiri, tetapi mendorong pelaksanaan hukuman mati di negeri orang lain. Antusiasme massa pendukung Amrozi Cs telah muncul dari berbagai kelompok Islam yang selama ini dikenal cukup keras, seperti : Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Anshorut Tauhid (Organisasi Pimpinan Abu Bakar Ba’asyir), Front Pembela Islam (FPI), dan beberapa ormas Islam lainnya. Eksekusi ini belum menjawab misteri sekitar Bom Bali. Memang, ketiga terpidana mengaku telah melakukan pemboman ini. Namun, apakah ketiganya adalah pelaku utama?

Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), HM Ismail Yusantokekhalifahan untuk menegakkan syariat Islam. Hasil kontak yang terjadi antara dunia Islam dengan barat juga dianggap sebagai kemunduran yang harus diantisipasi oleh gerakan fundamentalisme Islam. Semakin keras HTI melancarkan gerakan, semakin bagus buat kelompok Islam Moderat mendapatkan manfaat positif dari Barat. Menurut Ismail Yusanto, HTI akan terus melawan kepentingan AS dengan segala cara. Radikalisme Islam dan terorisme tidak akan pernah mati dengan dieksekusinya Amrozi cs. Ada pendapat Amrozi cs justru akan menjadi martir yang akan memicu aksi-aksi terorisme baru di kemudian hari. Bukan tidak mungkin, banyak kalangan yang menganggap Amrozi cs sebagai mempertanyakan hal ini; meragukan bahwa Amrozi cs adalah pelaku utama. Benar, mereka mengakui telah menyiapkan bom. Namun, benarkah bom sangat besar yang meledak di Jalan Legian, yang oleh para ahli bom dinilai masuk dalam kualifikasi mikronuklir, adalah benar-benar bom yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan?, bahkan Ismail Yusanto beranggapan bahwa korban di Legian Bali tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh AS dan Israel di Jalur Gaza, bila dibandingkan dari jumlah korban yang tewas. Oleh karena itu, menurutnya politik luar negeri Amerika Serikat tidak akan pernah berubah siapapun presidennya. Bagi Ismail Yusanto, presiden Obama malah lebih Yahudi daripada pendahulunya. Dengan kata lain Barack Obama adalah presiden pertama dari kalangan umat Yahudi. Bagi Hizbut Tahrir apa yang terjadi di Amrozi adalah masalah kecil bagi umat Islam secara umum, karena di Saudi Arabia, Irak, Sudan, dan sebagainya itu adalah peristiwa yang lumrah terjadi setiap hari. Kalau  benar bahwa Presiden Obama ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari pendahulunya berdasarkan prinsip mutual respect, maka menurut Hizbut Tahrir seharusnya Obama membicarakan terlebih dahulu tentang masalah yang terjadi di Gaza, bahkan meminta maaf kepada umat muslim. Sampai sekarang, AS terus melakukan “Politik Belah Bambu” terhadap gerakan Islam Kontemporer. Umat Islam akan selalu terpecah-pecah, dimana hal tersebut tidak akan membuat kemajuan bagi dunia Islam. Itu sebabnya HTI selalu mengusulkan terbentuknya sistem pemerintahan berdasarkan mujahid dan pahlawan yang nanti akan dan harus dihormati, karena disisi Allah SWT mereka adalah mujahid. Kelak pemerintah Indonesia akan dianggap pemerintahan yang zolim dan lalim karena membunuh para mujahid tersebut. Bila ada pihak yang memandang bahwa pasca Amrozi Gerakan Islam cenderung menurun, itu hanya masalah pemberitaan dari media massa yang mungkin sekarang lebih suka melakukan liputan pemilu di Indonesia.  Dan itu juga terkait dengan persoalan aksi (Barat/AS) dan reaksi (Umat Islam) terhadap fenomena yang ada di dunia.

Menurut Ahmad Suaedy Direktur Eksekutif the WAHID Institute, Gerakan Islam yang muncul Pasca Reformasi 1998 seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Jihad tidak memiliki genealogi dengan gerakan Islam yang telah ada sebelumnya seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. HTI misalnya berakar di Sudan dan berkembang di Mesir, Yordania, Palestina dan Lebanon. Disana Hizbur Tahrir tidak punya peran signifikan karena jumlahnya tidak besar, tetapi di Indonesia pengikutnya malah sangat banyak. Isu sentimen terhadap Amerika Serikat biasanya dimainkan oleh kelompok ini untuk menarik simpatisan. Sementara MMI disinyalir masih ada transmisinya dengan gerakan Kahar Muzakkar dan Kartosuwiryo (DI/TII) di masa lalu. Sedangkan FPI dan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal-Jamaah memiliki keterkaitan dengan Islam Wahabi di Saudi Arabia. Mereka umumnya memiliki idealisme yang sama yaitu menegakkan Piagam Jakarta. Mereka semua tergolong gerakan Islam garis keras (radikal), terutama dalam menentang kepentingan Amerika Serikat di Kawasan. Pasca Reformasi 1998, Gerakan Islam juga memunculkan kelompok Islam Progresif (moderat) yang menjunjung prinsip toleransi, pluralisme, kesetaraan gender, demokrasi dan keadilan. Contohnya adalah kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Avverroes di Malang, termasuk hidup di dalam Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di bawah Gusdur dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Pemikiran politik Islam pasca reformasi 1998 setidaknya menciptakan 3 kelompok di dalam masyarakat. Pertama, kelompok yang menginginkan legalitas politik Islam dalam sistem negara. Kelompok ini dikenal dengan kelompok simbolis yang berpegang pada model legalitas simbol-simbol Islam. Contohnya adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menginginkan terbentuknya Khilafah Islamiyah atau pemerintahan Islam di Indonesia. Bagi HTI, pemerintahan Islam merupakan suatu keharusan yang harus ditegakkan. Pemikiran politik HTI banyak terinspirasi model pemerintahan Rasulullah di Madinah. Dan kemudian berkembang pada sistem Khilafah Islamiyah sampai pada 1924 dimasa kepemimpinan Turki Usmani dihancurkan oleh kekuatan kapitalisme barat. Kedua, kelompok yang menolak masuknya sistem Islam dalam negara, tetapi merasa perlu memasukkan etos atau spirit Islam yang mendasari sistem negara. Kalangan ini dikenal sebagai kelompok substansialis. Mereka adalah, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad (LJ) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Bagi MMI misalnya, siapapun yang menentang penegakkan syariat Islam harus ditentang dan dilawan, sekalipun dengan kekerasan. Ketiga, adalah kelompok Islam yang ingin membedakan antara kawasan pribadi dan publik di dalam sistem kenegaraan. Agam adalah wilayah pribadi yang tidak bisa dicampurkan di dalam sistem publik (negara). Kelompok ini dikenal dengan kelompok liberal (sekuler). Contohnya adalah Jaringan Islam Liberal (JIL), yang banyak tokohnya, seperti Ulil Abshar Abdalla sekarang menikmati sekolah di Amerika Serikat. Menurut Jubir HTI Ismail Yusanto, semakin keras gerakan HTI, semakin menguntungkan kelompok Islam liberal (sekuler) di Indonesia. Mereka umumnya menikmati manfaat dari radikalisme Islam di Indonesia dari Amerika Serikat yang cenderung memberikan bantuan dana berlimpah.

Bagi HTI, demokrasi dan indikatornya seperti Pemilu adalah lebih untuk mengokohkan sekulerisme yang diusung oleh AS. Demokrasi adalah sistem kufur. Prinsip pokok demokrasi yang paling utama adalah kedaulatan rakyat, namun dalam Islam sangat jelas bahwa kedaulatan bukanlah di tangan rakyat tetapi di tangan syariah. Itu sebabnya sampai sekarang HTI konsisten untuk memperjuangkan terciptanya syariah Islam dan sistem kepemimpinan berdasarkan khalifah. Presiden AS, George W. Bush pernah mengatakan “jika kita mau melindungi negara barat dalam jangka panjang, maka hal terbaik yang dilakukan adalah dengan menyebarkan kebebasan dan demokrasi”. HTI sangat menentang sistem demokrasi yang disokong oleh AS tersebut. Bagi HTI haram hukumnya mengambil sistem demokrasi, menerapkannya dan menyebarluaskan. Syariah Islam akan membendung kepentingan politik negara imperialis seperti AS yang selalu ingin memastikan elit-elit politik tetap dibawah kontrol mereka. Secara politik syariah Islam akan mengutuk segala hal yang menjadi jalan penjajahan asing. Undang-Undang yang ditegakkan haruslah berdasarkan syariah Islam bukan UU pesanan asing yang lebih memihak pada kepentingan AS. Negara yang berdasarkan syariah Islam harus melarang LSM asing yang kegiatannya memecah belah negara serta menyebarkan kemaksiatan atas nama HAM yang merupakan ide kufur. Tidak akan dibiarkan kelompok seperti Ahmadiyah yang jelas-jelas Kufur yang menjadi kaki tangan Inggris untuk merusak akidah umat Islam. Syariah Islam juga akan menerapkan ekonomi berdasarkan hukum Islam. Hal ini jelas akan mengancam kepentingan ekonomi AS. Berdasarkan syariah Islam eksploitasi kekayaan alam Indonesia atas nama pasar bebas dan investasi asing akan distop. Barang-barang tambang yang jumlahnya melimpah seperti minyak, gas, batu bara, emas, semua itu adalah milik rakyat (milkiyah’amah) yang tidak boleh dimiliki oleh individu/swasta apalagi asing. Menurut HTI negara yang berdasarkan syariah Islam akan menjadi negara adidaya yang kuat dan berwibawa serta siap berhadapan dengan imperialis yang bengis seperti AS. Kewajiban jihad akan menjadi kekuatan utama. Keinginan meraih surga dengan syahid fii sabilillah membuat tentara-tentara akan memiliki semangat yang luar biasa. Prinsip mereka : hidup mulia atau mati syahid. Tentara-tentara yang kuat ini akan menjadi pelindung rakyat dari segala bentuk penjajahan asing. Itu sebabnya AS dan sekutunya akan selalu berusaha dengan segala cara menjamin agar Indonesia tetap menjadi negara sekuler. Untuk itu, bagi AS Indonesia harus dijaga agar sistem politiknya tetap demokrasi yang berintikan pemilu. Kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta mengindikasikan bahwa Indonesia adalah pion kepentingan AS. HTI juga mensinyalir ada kepentingan AS dibalik Pemilu 2009.

Eksekusi Amrozi akan terus menyisakan masalah keadilan. AS dan sekutunya, atas nama perang melawan terorisme, bukan hanya membunuh ratusan orang, tetapi ratusan ribu  penduduk sipil di Irak dan Afganistan. AS dan sekutunya bukan hanya menghancurkan satu kawasan, tetapi menghancurkan satu negara, memborbardirnya dengan bom-bom canggih dan berkuatan daya hancur yang sangat tinggi. Mengapa mereka tidak disebut teroris? Mengapa Bush, Tony Blair dan para pemimpin sekutu lainnya tidak dijatuhi hukuman mati? Bagaimana pula dengan zionis Israel yang hingga kini terus meneror umat Islam di Palestina. Selain membunuh, menculik dan menyiksa umat Islam di sana, Israel juga memblokade Jalur Gaza dan Tepi Barat. Akibatnya, banyak yang terancam kelaparan dan menderita sakit; banyak pula anak-anak dan bayi yang terancam kekurangan gizi. Mengapa Israel tidak disebut teroris dan pemimpinnya dihukum mati? Bagaimana pula dengan para pelaku pembantaian  umat Islam di Ambon, Poso, dan Sampit (Kalimantan)? Mengapa pelakunya  tidak dihukum mati? Tibo memang sudah dihukum mati, tetapi bagaimana tokoh intelektual yang lain? Ketidakadilan seperti ini memang menunjukkan perang terorisme yang dimaksud AS dan sekutunya adalah perang terhadap Islam dan umat Islam. Sebab, siapa yang dituduh teroris adalah pihak-pihak yang menentang penjajahan AS dan sekutunya. Yang menjadi korban terbesar dalam War on Terorrism ini adalah umat Islam. Perang ini adalah untuk kepentingan negara-negara imperialis.

Pemerintah Indonesia telah terjebak dalam apa yang disebut kampanye War on Terrorism yang didengungkan AS, karena kampanye ini hanyalah kedok (mask) untuk menutupi maksud AS sesungguhnya: war on Islam. Kita harus memahami bahwa agenda global AS untuk memerangi umat Islam atas nama perang melawan terorisme belum berhenti. Eksekusi Amrozi dkk ini bukanlah akhir dari permainan ini. Bush pernah  mengatakan, perang ini merupakan lanjutan dari Perang Salib yang membutuhkan waktu yang lama. This Crusade, this war on terrorism is going to take a along time. Eksekusi Amrozi cs lebih merupakan hadiah bagi AS. Sebab, selama ini AS adalah salah satu penyokong utama upaya pemberantasan terorisme. Eksekusi ini merupakan upeti SBY kepada Amerika yang selama ini menjadi motor penggerak dalam menangani terorisme. Masalah terorisme di Asia Tenggara sangat ditakuti oleh AS, maka Hillary Clinton dipastikan akan menyampaikan agenda di dalam forum-forum multilateral yang akan datang akan proyek-proyek bantuan pelatihan anti terorisme (technical assistance). Itu sebabnya Amerika Serikat juga mendukung program Masyarakat Sipil dan Islam yang mendukung pesan toleransi melalui para pemimpin agama. Sebagai bagian dari program ini, Amerika Serikat memberikan bantuan kepada 48 perguruan tinggi Islam dan 40 pesantren, melatih 80 guru dan 90 pengajar perguruan tinggi di institusi pendidikan Islam tersebut serta menyebarkan selebaran tentang demokrasi ke 443 mesjid di 21 kota. Lima American Corner terselenggara di lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Amerika Serikat juga mendanai sebuah pusat internasional yang menjembatani hubungan antara cendikiawan Muslim progresif dan para aktivis. Campur tangan barat (AS) di Indonesia bisa sangat jelas terlihat dari mulai pada persoalan : 1). Pembuatan Undang-Undang, misalnya UU Penanaman Modal dan UU Migas.; 2). Pemilihan pejabat publik ; 3) mindset (cara berpikir). Contoh adalah pembuatan UU penanaman modal, dimana World Bank memberi dana kepada DPR untuk membuat RUU sampai UU tersebut jadi. Disini ada mindset dari kapitalisme global dan kepentingan pengusaha besar Amerika Serikat, termasuk pergantian Direktur Utama Pertamina pasca kunjungan Hillary.

About these ads

Actions

Information




%d bloggers like this: