Analisis Cina di Asia Tenggara

9 02 2010

by Igor Dirgantara

Cina sering disebut-sebut sebagai negara yang berpeluang besar tampil sebagai dominant power menggantikan Amerika Serikat (AS) dan Rusia di Kawasan Asia Tenggara Pasca Perang Dingin. Perkembangan politik di Asia Tenggara dewasa ini telah melahirkan tantangan, tekanan dan sekaligus peluang-peluang baru bagi Cina. Dalam perubahan strategis dan ekonomi Kawasan Asia Tenggara, Cina menunjukan sikap lebih fleksibel. Cina menjadi aktif dalam pengembangan regionalisme ekonomi dan keamanan. Sikap ini membuat Cina menjadi lebih di terima di kawasan dan mempunyai posisi lebih kuat dalam persaingannya dengan kekuatan-kekuatan regional lain di kawasan. Sementara itu, bagi ASEAN kebangkitan Cina tidak dapat dihindarkan. Jalan terbaik bagi ASEAN adalah mengembangkan pendekatan-pendekatan multilateral untuk mencegah dominasi Cina di kawasan. Bersamaan dengan ini, ASEAN melakukan konsolidasi internal untuk memperkuat posisi dalam perkembangan baru kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Berbagai analisa tentang Cina sepakat bahwa saat ini Cina telah menjadi kekuatan dunia dan makin percaya diri dalam politik luar negerinya khususnya dalam mempengaruhi regionalisme baru di Asia Tenggara dan Timur. Cina selalu menjadi faktor pembentuk pemikiran strategis tentang masa depan kedua kawasan ini. Keberhasilan Cina meluncurkan satelit militernya yang pertama dan menjadi tuan rumah Olimpiade 2008 di Beijing makin memperkuat prestise dan status Cina sebagai kekuatan besar dunia.

DIMENSI EKONOMI DAN PERDAGANGAN
Cina adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia yang mencapai rata-rata hampir 10% tiap tahun. Dua belas persen pertumbuhan ekonomi dunia berasal dari pertumbuhan ekonomi Cina. Cina juga berhasil menarik investasi asing ke dalam Cina, termasuk Taiwan yang nilainya mencapai ratusan milliar dolar. Hal ini di mungkinkan karena keterbukaan ekonomi Cina dalam beberapa dekade sejak dilakukannya program keterbukaan dan pembangunan ekonomi oleh mantan perdana menteri Deng Xiao Ping pada tahun 80-an. Cina juga mencatat surplus perdagangan dengan hampir semua negara penting dunia. Khususnya dengan Amerika Serikat, pada tahun 2005 surplus perdagangan Cina mencapai 200 milyar dolar lebih yang merupakan 26% dari total defisit perdagangan Amerika Serikat. Bahkan diperkirakan bahwa Cina akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia, menggantikan posisi Amerika Serikat pada antara tahun 2020-2050. Ini pun juga masih diperdebatkan. Sebagian lagi percaya bahwa Cina tidak akan melampaui ekonomi Amerika Serikat sampai dengan tahun 2035. Terlebih jika diukur dari pendapatan perkapita pada tahun 2035, Amerika Serikat masih lebih tinggi dari pada Cina. Pada tahun 2007-2008 total perdagangan ASEAN-Cina mencapai 171,1 milyar Dollar AS. Menurut Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Sudjadnan Parnohadiningrat, AS adalah partner dagang kedua terbesar untuk ASEAN, sedangkan ASEAN sekarang ini merupakan partner dagang terbesar ke-4 dari AS. Jangan lupa bahwa AS mempunyai ASEAN Fulbright Programme dan menurut Duta Besar AS untuk urusan ASEAN, Scot A. Marciel, AS adalah penyumbang dana sekitar 7 milyar dollar per tahun untuk sekretariat ASEAN dalam mewujudkan 3 pilar komunitas ASEAN (Ekonomi, Keamanan, dan Sosial Budaya). Bagaimanapun juga hubungan AS-ASEAN akan tetap berlandaskan dukungannya terhadap isu-isu yang berkaitan dengan persoalan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Dilantiknya Barrack Obama dari Partai Demokrat pada hari selasa 20 Januari 2009 kemarin jelas akan semakin mempertegas isu tersebut dalam konteks hubungan AS-ASEAN ke depan.
Secara umum orang akan mengatakan bahwa Cina telah sangat berhasil membangun ekonomi, menjadikan dirinya menjadi kekuatan ekonomi dunia, dan bahkan kini disebut-sebut sebagai calon super power baru yang dapat mengimbangi posisi Amerika Serikat baik secara ekonomi, politik, dan strategis. Karena keberhasilannya dalam sistem politik yang relatif unik dibandingkan dengan negara-negara lain karena masih di pertahankannya sistem politik komunisme, sebagian orang menyebut sebagai contoh atau model diktator yang berhasil (a succesful dictatorship).
Mengapa Cina tumbuh cepat? Paling tidak ada 5 faktor yang menjelaskan pertumbuhan ekonomi Cina. Faktor pertama adalah penerapan atau pelaksanaan ekonomi pasar yang menggantikan peran negara dalam penentuan harga dan alokasi modal. Kedua, pertumbuhan ekonomi Cina disebabkan oleh keterbukaannya pada ekonomi dunia yang terutama di tandai dengan mengalirnya investasi ke Cina. Ini juga memberikan insentif sangat kuat kepada perusahaan-perusahaan domestik untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan di Cina. Faktor ketiga adalah adanya tingkat tabungan dan investasi yang tinggi; keempat, adanya perubahan komposisi sektoral buruh dimana saat ini mereka yang bekerja pada sektor pertanian hanya berkisar 50% dibandingkan 70% pada dekade-dekade sebelumnya; dan faktor kelima adalah tingkat pendidikan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang tingkat pendapatan perkapitanya masih rendah. Tahun 1977 tingkat melek huruf Cina 66 persen dibandingkan dengan India yang hanya 36 persen. Saat ini tingkat melek huruf di Cina 80 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan India yang hanya 50 persen.

DIMENSI POLITIK DAN KEAMANAN
Menjadi pertanyaan besar seberapa lama sentralisasi politik bisa bertahan dalam sistem ekonomi yang makin terbuka baik secara domestik dan dalam hubunganya dengan ekonomi internasional? Ekonomi yang dituntut untuk lebih rasional dan efisien mensyaratkan adanya reformasi politik dengan birokrasi yang efisien pula. Sistem politik pun harus bisa menyesuaikan diri untuk dapat menghasilkan keputusan-keputusan politik yang terbuka. Lebih substansial lagi, sistem politik Cina dituntut untuk memberikan perhatian lebih kepada aspek kesejahteraan sosial dan kebijakan-kebijakan politik kepada mereka yang terkena efek negatif dari pertumbuhan ekonomi Cina, misalnya dalam hal kesempatan kerja, pendidikan, dan pelayanan kesehatan terutama kepada para petani dan masyarakat pedesaan. Hal ini merupakan tantangan politik terhadap Partai Politik Komunis Cina yang mendasarkan para petani sebagai basis ideologinya.
Secara eksternal, kepentingan ekonomi Cina juga memaksa Cina untuk menerapkan politik luar negeri yang bersahabat dengan masyarakat internasional dengan ditopang oleh diplomasi yang makin asertif untuk melindungi kepentingan strategis dan perdagangan internasionalnya. Saat ini lima puluh persen impor Cina berasal dari Timur Tengah. Cina hanya mempunyai 2.1% cadangan minyak dunia. Sembilan puluh persen kebutuhan minyak Cina di import melalui laut dan akan terus naik karena Cina akan mengimpor 12.7 juta barel/hari pada tahun 2020. Saat ini Cina mengimpor 6.2 juta barel/hari. Ini berarti ketergantungan Cina terhadap perairan Asia Tnggara dan Indonesia khususnya akan terus menguat.
Cina bukanlah sebuah negara yang kaya akan sumber alam yang cukup untuk mendukung pertumbuhan ekonominya yang sangat tinggi. Bisa dikatakan Cina saat ini sedang mengalami lateral pressure, dimana meningkatnya jumlah penduduk dan kemajuan teknologi akan mendesak sebuah negara untuk mencari sumber daya alam, terutama minyak sebagai sumber energi, dalam jumlah yang sangat besar dan beragam di tempat lain di luar wilayahnya. Oleh karena itu, berbagai macam usaha ke luar negeri harus dijalankan oleh Cina untuk dapat memperoleh pasokan minyak yang cukup untuk kebutuhan pembangunannya. Seiring dengan kebutuhan minyak, Cina juga harus mampu mengamankan jalur pelayaran pengantar minyak. Wilayah paling rawan saat ini adalah Selat Malaka, selat yang sangat sibuk dan sangat kritis tidak hanya bagi Cina tetapi juga bagi AS dan Jepang. Cina memang tidak mengerahkan kekuatan militernya untuk bisa menaklukan Asia Tenggara. Dengan Soft Power, Cina akan berupaya mengisi vacuum power yang ada sekarang ini di kawasan untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya alam yang semakin meningkat (lateral pressure). Menurut Joseph S. Nye, Soft Power adalah kemampuan suatu negara untuk membujuk negara lain dengan menggunakan pengaruh dalam melakukan sesuatu. Ideologi, budaya, prestise atau kesuksesan suatu negara merupakan daya tarik bagi negara lain sehingga negara itu bisa menjadi pemimpin, dan negara-negara lain dengan sukarela bertindak sebagai pengikut.
Secara umum, persaingan energi dan keamanan laut akan menjadi isu sentral. Saat ini dan dimasa yang akan datang Asia Timur (dan Tenggara) lebih banyak sebagai konsumen dari pada produsen. Konsumsi energi Asia meningkat menjadi 9.3% tahun 1971 menjadi 28.4% nanti pada tahun 2030. Bahkan diprediksi bahwa pada tahun 2020 tingkat konsumsi minyak Asia akan mencapai tingkat konsumsi gabungan Amerika Utara dan Eropa Barat. Saat ini konsumsi energi Asia sekitar 24.4% dari total konsumsi dunia. Dalam kurun waktu yang sama konsumsi Thailand dan Malaysia meningkat 8 kali, Indonesia dan Korea 5 kali, sedangkan Cina dan Jepang masing-masing 2 dan 3 kali lipat. Dengan produksi yang hanya mencapai 8.4% dari total produksi minyak dunia, Asia Timur menurut International Energy Agency (IEA) antara tahun 1995-2010 kebutuhan energi dunia naik 35-45%; sedangkan kebutuhan minyak dunia pada tahun 2020 naik dari 71.6 juta barel/hari menjadi 115 juta barel/hari . Selama ini mereka tergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Karena itu kecenderungan Cina akan meningkatkan proyeksi kekuatan ke Asia Tenggara merupakan hal yang tidak dapat kita hindarkan. Cina mendekati ASEAN dengan menandatangani Treaty of Amiti Coopertion (TAC) dan kode etik penyelesaian damai atas konflik teritorial di Laut Cina Selatan, serta melancarkan diplomasi energi baik ke Asia Tengah, Afrika, maupun Amerika Latin. Perlu diketahui Cina adalah negara pertama non-ASEAN yang menandatangani TAC pada tahun 2003.
Negara-negara Asia Tenggara diyakini semakin memiliki pengaruh yang besar bagi kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan Cina, begitu juga sebaliknya. Namun hubungan strategis yang dilancarkan Asia Tenggara dan Cina juga menimbulkan potensi konflik regional di masa depan. Dalam 1 dekade terakhir Cina semakin giat melancarkan pendekatan ekonomi dan diplomasi ke negara-negara Asia Tenggara. Contohnya pada bulan April – Desember 2008 saja ada 3 kunjungan dari 3 tokoh Cina yang berpengaruh ke Indonesia yang membawa lebih dari 200 delegasi bisnis yang langsung ditemui oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Sebelumnya, pada Oktober 2006 presiden SBY dan rombongan delegasi RI berkunjung ke Guilin (Cina), khususnya Menteri Perdagangan Mari Pangestu mengharapkan volume perdagangan Indonesia-Cina dapat meningkat dari sekitar 15 milyar dolar pada tahun 2005 menjadi 30 milyar dolar pada 2010, yang bisa tercapai jika ada wujud nyata dari komitmen pengusaha Cina untuk melakukan investasi senilai 8 milyar dollar. Diakui bahwa Cina mempunyai kepentingan untuk mengamankan kebutuhan energi domestiknya dan menjadi salah satu faktor utama pentingnya Asia Tenggara bagi Cina.
Mulai tahun 2015 sekitar 40% dari kebutuhan gas alam cair (LNG) Cina sebagian besar akan di pasok dari Asia Tenggara, diantaranya Malaysia, Indonesia, Brunei, Myanmar dan Laut Cina Selatan. Bahkan pasokan utama energi ke Cina dari Timur Tengah dan Afrika akan melewati jalur laut Selat Malaka yang dimiliki bersama oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura. Jelas Cina sekarang ini masih berpolemik dalam memperebutkan Laut Cina Selatan yang kaya dengan gas alam dengan negara-negara ASEAN. Arti penting Laut Cina Selatan secara politis bagi Indonesia adalah untuk menjalankan usaha-usaha pengembangan landasan kontinen di sebelah Utara dan Timur dari Kepulauan Natuna yang memiliki cadangan gas bumi. Sesuatu yang menghawatirkan Indonesia adanya dugaan penggunaan teknologi baru penambangan dasar laut yang menjangkau hak kedaulatan Indonesia. Disinyalir sejak tanggal 8 Mei 1992, perusahaan minyak Cina (The Chinese National Offshore Oil Company) dengan Crestone Energy Company dari AS melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di kawasan seluas 25.000 km2 dalam wilayah Nansha di Barat Daya Laut Cina Selatan yang dekat sekali dengan Kepulauan Natuna. Padahal sikap Indonesia mengenai masalah sengketa hak berdaulat atas ZEE (Zona Eksklusif Ekonomi) dan Landas Kontinen di Kepulauan Natuna, senantiasa mengacu pada prinsip negara Kepulauan dan sesuai Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 pasal 47 ayat 2, setidaknya pada zona pembatasan sengketa tersebut tetap menganut sistem median lines dan diukur berdasarkan garis pangkal lurus kepulauan yang memiliki jarak 125 mil laut dimana jumlahnya tidak melebihi 3% dari jumlah garis pangkal yang mengelilingi kepulauan tersebut. Indonesia memang kaya akan sumber migas dan Cina terus berupaya mencari sumber-sumber energi baru di luar Timur Tengah. Menurut perkiraan kebutuhan gas alam Cina akan meningkat 10% per tahun selama 20 tahun yang akan datang dan Indonesia dapat menjadi pemasok penting.

Tidak dapat disangkal bahwa adanya kompleksitas klaim dan tumpang tindih di Laut Cina Selatan, seperti di kepulauan Spratly dan Paracel yang melibatkan tiga negara anggota ASEAN (Brunei, Vietnam, Philipina) disebabkan oleh potensi sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Potensi sumber daya alam yang potensial dapat dieksploitasi dan dikembangkan di Laut Cina Selatan adalah energi hirokarbon, minyak dan gas bumi serta perikanan. Sejak kawasan Asia Pasifik maupun subkawasan Asia Tenggara mengalami pertumbuhan yang cepat menghadapi masalah suplai energi termasuk permintaan dunia akan sumber perikanan, telah menimbulkan pertimbangan prioritas bagi pengambilan keputusan politik luar negeri setiap negara di kawasan guna memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri maupun permintaan pasar internasional. Bagi Cina selain sebagai sumber migas, Laut Cina Selatan adalah sabuk pengaman dan wilayah penyangga (Buffer Zone) bila ada ancaman dari arah selatan dari sekitarnya (Southern Seas). Selain itu, yang lebih penting lagi adalah Cina menjadikan kawasan ini sebagai Silk Route yang digunakan untuk kegiatan rute transportasi perdagangannya yang menghubungkan Cina dan Eropa.
Beberapa ahli dan peneliti Cina mengungkapkan bahwa di kawasan Kepulauan Spratly terdapat cadangan minyak dan gas bumi yang berlimpah, yaitu sekitar 25-30 milyar meter kubik cadangan gas, 105 milyar barel cadangan minyak dan 370.000 ton fosfor. Beberapa analisis industri memperkirakan bahwa, tahun 2015 Cina akan menjadi importir yang sama besarnya dengan Amerika Serikat, sehingga untuk mencukupi kebutuhan minyak Cina, eksplitasi cadangan minyak yang berada di kawasan itu menjadi penting bagi kebijakan luar negeri Cina.
Kawasan Asia Tenggara selalu menempati posisi penting bagi Cina baik secara politik maupun strategis. Hal ini tampaknya tidak akan berubah bahkan akan makin kuat karena kepentingan Cina yang makin besar untuk mengembangkan hubungan yang lebih baik dengan negara-negara Asia Tenggara. Hal ini di sebabkan karena pertama, Asia Tenggara adalah kunci untuk memperluas pengaruh terutama persaingan dengan Jepang; kedua, Asia Tenggara sangat strategis untuk kepentingan ekonomi dan keamanan, terutama karena menjadi jalur laut internasional (SLOC,Sea Lanes Of Comunication) : perairan Asia Tenggara di layari oleh kapal-kapal dagang dan tenker dengan nilai lebih dari 350 milyar dollar tiap tahun. Sembilan puluh persen minyak Cina juga melalui perairan Asia Tenggara. Ketiga, Asia Tenggara yang berpenduduk sekitar 500 juta jiwa merupakan pasar yang sangat potensial bagi Cina, bahkan menjadi area investasi di masa yang akan datang; keempat, Asia Tenggara menjadi area sangat penting bagi Cina untuk mengembangkan strategi multiratelarisme untuk menyeimbangkan posisi dengan AS di kawasan dan untuk memproyeksikan wajah diplomasi Cina yang benign dan peaceful sebagaimana di tunjukan oleh penandatanganan code of conduct di Laut Cina Selatan, dan terakhir Asia Tenggara penting bagi Cina untuk bersama-sama menghadapi tekanan Barat dan hak asasi manusia.
Memang tidak dapat dipungkiri, krisis ekonomi tahun 1997 memberikan ruang yang cukup luas bagi Cina untuk lebih aktif di Asia Tenggara, dimana Cina bersedia untuk tidak mendevaluasi mata uangnya walaupun Cina jelas mengalami tekanan berat. Untuk ini Cina bersedia menanggung kerugian yang cukup besar. Kecewa dengan bank Dunia, IMF, dan institusi-institusi keuangan Barat, negara-negara Asia Tenggara menyambut baik kerja sama negara Cina. Dalam Krisis Global sekarang ini negara ASEAN plus Cina, Jepang dan Korea Selatan (ASEAN +3) telah sepakat menyiapkan 80 milyar dollar (800 Triliun) sebagai antisipasi meluasnya Krisis Ekonomi Global ke Asia Tenggara. Dana tersebut berasal dari penyisihan cadangan devisa negara-negara tersebut diatas, yang diputuskan dalam pertemuan ASEM (Asia Europe Meeting) ke-7 pada tanggal 24 Oktober 2008. Adapun Cina, Korea Selatan dan Jepang menyediakan 80% dari total dana atau sekitar 65 milyar dollar (650 triliun) dimana sisanya akan ditanggung oleh 10 negara anggota ASEAN. ASEAN + 3 awalnya memang dibentuk untuk mengurangi dominasi AS dalam bidang ekonomi yang menemukan momentumnya pada saat terjadinya krisis ekonomi tahun 1997, dimana Cina dan Jepang tampil lebih meyakinkan dari pada AS yang lebih menyukai APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) dan berdiri di belakang IMF (International Monetary Fund) yang sering memaksakan kebijakan ekonomi yang justru memperburuk keadaan.

Peran Amerika Serikat (AS)
Kekalahan AS dalam perang Vietnam berakibat pada berkurangnya peran Amerika di kawasan Asia Tenggara dan terus berkembang hingga berakhirnya Era Perang Dingin. Pengaruh AS dalam bidang politik dan keamanan mulai pudar karena negara-negara ASEAN sepenuhnya tidak membutuhkan AS dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, walaupun beberapa negara anggota ASEAN tetap mengharapkan pada kehadiran AS sebagai upaya menghadapi kemajuan Cina yang semakin agresif. Singapura, Philipina dan Thailand adalah negara anggota ASEAN yang paling bersemangat mendukung kehadiran AS di kawasan di tambah Jepang dan Taiwan, sementara Cina, Indonesia dan Malaysia adalah 3 negara yang tidak terlalu bersemangat menerima kehadiran AS di Asia Tenggara. Akan tetapi, sesudah invasi AS ke Afganistan dan Irak, pengaruh militer AS kembali menguat di Asia Tenggara sejalan dengan semangat untuk memerangi terorisme global. Dukungan penuh terhadap perang global melawan teroris menyebabkan AS memberikan bantuan militer yang cukup banyak bagi negara anggota ASEAN, terutama Singapura, Philipina dan Thailand. Sementara bagi Indonesia dan Malaysia tidak dapat secara bebas menyatakan dukungan terbuka kepada AS karena mayoritas penduduknya yang berbasis pada Islam (muslim). Dalam pidato pelantikan Barack Obama sebagai presiden kemarin hari Selasa tanggal 20 Januari 2009, menarik untuk disimak adanya keinginan dari AS untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan negara-negara Muslim. Hal ini mengindikasikan bahwa ada kekeliruan dalam praktek Politik Luar Negeri AS terhadap negara-negara Islam di masa presiden George W. Bush. Di sini AS sebenarnya tertinggal selangkah dari Rusia yang malah lebih dahulu menjalin aliansi strategis dengan dunia Islam.
Cina merupakan negara yang memiliki penduduk lebih dari 1 milyar jiwa, memiliki senjata nuklir, serta belanja militernya yang meningkat di atas 10% setiap tahun dalam 17 tahun terakhir, dan tidak pernah bersikap terbuka mengenai anggaran militernya. Pandangan bahwa Cina merupakan ancaman di kawasan Asia Tenggara (China Threat Teory) jelas merupakan propaganda yang dilancarkan oleh AS. Karena itu kebangkitan Cina sekarang ini tidak hanya digambarkan sebagai sesuatu yang menyenangkan (fascinans), tetapi sekaligus sebagai sesuatu yang menakutkan (tremendans). Anggaran militer Cina selama 2 tahun terakhir telah mencapai angka 29,9 milyar dollar AS. Namun, ada asumsi kuat dari AS dan Sekutunya (Barat) yang percaya bahwa anggaran pertahanan tahunan militer Cina berkisar dari 30-70 milyar dollar. Artinya data yang dipublikasikan oleh Cina diperkirakan hanya 1/3 (sepertiga) dari anggaran yang sesungguhnya. Hal ini telah menempatkan Cina pada posisi nomor 3 setelah AS dan Rusia dalam belanja militer. Perlu diketahui bahwa Angkatan Bersenjata Cina merupakan yang terbesar di dunia dengan jumlah 2,5 juta personil. Oleh karena itu salah satu fokus yang penting kembalinya Asia Tenggara dan Timur menjadi perhatian AS adalah karena kebangkitan ekonomi Cina dan perluasan pengaruh Cina dalam rangka mencari sumber energi di seluruh dunia. Adanya proyek perencanaan pembangunan jaringan pipa untuk saluran gas alam yang akan melintasi negara-negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara sangat penting untuk investasi AS di masa depan. Meskipun APEC belum memberikan respon terhadap proposal AS untuk jaringan pipa tersebut, saluran-saluran baru telah direncanakan untuk dibangun diantara negara-negara ASEAN. Contohnya adalah pipa saluran air Indonesia dari pulau Natuna ke Sumatera, pipa saluran Singapura dan Malaysia, dan pipa yang menghubungkan Brunei dan Thailand. Kebutuhan gas yang terus meningkat memberikan kecenderungan perkembangan pipa saluran ini akan terus berkembang di masa yang akan datang, bahkan mungkin sampai ke kawasan Laut Cina Selatan yang didominasi oleh Cina.
Bagi AS, Cina yang kuat sangat menakutkan karena merupakan ancaman terhadap semua kepentingan AS diseluruh dunia. Namun kehadiran dan posisi AS yang kuat dibelakang kekuatan militer Jepang selama ini merupakan pemicu bagi Cina untuk terus meningkatkan kapasitas militer sebagai konsekuensi dari pertumbuhan ekonominya. Sungguh begitu, dimasa depan politik luar negeri AS terhadap Cina dan di Asia Tenggara masih akan sangat dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan perdagangan di bandingkan dengan isu nuklir. Meskipun AS masih merupakan pemimpin ekonomi dunia, tetapi negara ini kalah cepat memanfaatkan peluang ekonomi yang ada dibandingkan apa yang telah dilakukan oleh Cina, terutama dalam melakukan rekonsiliasi antara kepentingan politik dan ekonominya. Apalagi kondisi itu diperparah dengan adanya krisis ekonomi global yang justru dimulai dari AS sekarang ini. Sampai sekarang AS tidak berhasil menahan kekuatan ekonomi Cina, meskipun berulang kali AS melakukan protes karena kemajuan ekonomi Cina tersebut dianggap AS karena Cina melakukan praktek perdagangan yang tidak adil. Walaupun begitu, secara khusus di kalangan negara-negara Asia Tenggara masih ada pandangan bahwa kehadiran AS merupakan faktor yang sangat penting untuk menjamin stabilitas kawasan, terutama untuk mengimbangi peran Cina yang di nilai semakin agresif.

CINA DAN ASIA TENGGARA
Secara tradisional, Cina selalu melahirkan kecurigaan di kawasan Asia Tenggara karena faktor sejarah politik luar negerinya di masa lalu dan kebangkitannya sebagai negara besar. Tetapi, dalam satu setengah dekade terakhir, ini Cina berhasil mengembangkan hubungan baru dengan Asia Tenggara. Kecurigaan negara-negara Asia Tenggara terhadap Cina relatif menurun atau paling tidak negara-negara di kawasan Asia Tenggara sepakat bahwa Cina harus dilibatkan dalam perkembangan-perkembangan regionalisme/nultilateralisme di kawasan.

Tidak seperti pada periode 1990-an, dalam beberapa tahun terakhir ini Cina mulai percaya diri mendekati ASEAN yang telah mengembangkan beberapa inisiatif multilateralisme. Mulai dari hubungan konsultatif pada tahun 1992, Cina kemudian menjadi anggota ASEAN regional forum (ARF) dan mitra dialog ASEAN sampai sekarang. Pada tahun 2002 Cina telah menandatangani Declaration On The Conduct Of Parties In The South Cina Sea yang menumbuhkan kepercayaan ASEAN terhadap Cina dalam masalah/sengketa di Laut Cina Selatan. Langkah ini diikuti dengan penandatanganan ASEAN-Cina Fre Trade Area (ACFTA) dan Treaty Of Amity and Cooperaton (TAC).
Cina tampaknya merasa nyaman dengan multilateralisme yang dikembangkan oleh ASEAN. Semula Cina mencurigai multilateralisme sebagai bagian dari upaya negara-negara Barat untuk membendung Cina. Dalam perkembangan selanjutnya, Cina berhasil mengambil manfaat multilateralisme sebagai upaya untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional tentang kebangkitan Cina yang damai dan memberikan sumbangan terhadap keamanan dan perekonomian dunia. Khususnya dalam bidang perekonomian dunia, Cina mendukung World Trade Organization (WTO) dan mengambil langkah-langkah liberalisasi dalam sistem ekonomi pasar baik secara unilateral maupun multilateral. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan penandatanganan serangkaian FTA antara Cina dengan ASEAN dan secara individual dengan negara-negara ASEAN. Diluar ASEAN, Cina juga mengembangkan diplomasi minyak ke beberapa negara Afrika dan berhasil menjadikan the Shanghai Cooperation Organization (SCO) sebagai kerja ekonomi di Asia Tengah, khususnya kerja sama energi.
Diplomasi Cina yang relatif berhasil di Asia Tenggara di barengi dengan persepsi negatif terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir sejak tragedi 9-11, sentimen anti Amerika Serikat menguat karena sikapnya yang dianggap unilateral, terutama dalam bidang politik (HAM), lingkungan hidup, dan peperangan anti terorisme. Sementara itu Amerika Serikat sendiri harus mencurahkan kekuatan ekonomi, politik, dan militer ke Timur Tengah. Hal ini memberi keuntungan kepada Cina. Beijing berhasil mencitrakan diri bangkit sebagai kekuatan dunia dengan damai dan memahami sensitifitas negara-negara tetangganya di Asia Tenggara melalui upaya-upaya pendekatan bilateral dan multilateral dengan negara-negara ASEAN. Tampaknya, Cina memang sangat diuntungkan dengan situasi internasional dan berhasil membaca dan memanfaatkan secara maksimal situasi tersebut untuk mengambil langkah terbaik mendekati ASEAN. Bahkan Cina menawarkan kerjasama militernya dengan negara-negara ASEAN yang disampaikan PM Wen Jia Bao dalam Konferensi Tingkat Tinggi Cina-ASEAN di Nanning, 30 Oktober 2006. Dibidang ekonomi, Wen Jia Bao juga meminta untuk mempercepat usaha perdagangan bebas antara Cina dan ASEAN yang direncanakan pada 2010, dengan nilai transaksi dagang keduanya mencapai angka 200 milyar dollar pada tahun 2009. Asia tenggara bagi Cina sekarang merupakan pasar utama sekaligus sumber energi bagi Cina.
Sementara itu di pihak ASEAN, bangkitnya Cina sebagai kekuatan besar yang mempunyai kepentingan strategis di kawasan tidak dapat dihindarkan, termasuk di dalamnya adalah persaingan antara Cina dengan kekuatan eksternal lain yaitu India, Jepang, dan Amerika Serikat. Langkah terbaik bagi ASEAN adalah dengan mengembangkan regionalisme multilateral melalui berbagai forum seperti ARF, ASEAN Plus Three (APT), dan East Asia Summit (EAS). Langkah ini juga menguntungkan negara-negara kecil, seperti Kamboja dan Laos yang menggunakan pendekatan multilateralisme ASEAN dalam hubungannya dengan Cina. Langkah ini juga digunakan untuk mencegah dominasi Cina di kawasan, terutama dalam konteks pembentukan suatu Komunitas Asia Timur. Bahkan, ASEAN dengan pengaruh Indonesia yang kuat bergerak lebih jauh dengan memasukkan Australia, India, dan Selandia Baru dalam EAS. Beberapa argumen menyatakan bahwa langkah ini dimaksudkan untuk membentuk suatu regionalisme yang terbuka (inklusif) atas dasar kerja sama fungsional. Terlepas dari perspektif neo-fungsionalisme seperti itu, tampaknya keanggotaan Australia, India dan Selandia Baru juga ditunjukkan untuk mengimbangi kemungkinan dominasi Cina dalam APT dan EAS. Tampaknya ASEAN sangat yakin bahwa model regionalisme yang dikembangkannya adalah langkah terbaik untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan besar yang bertanggung jawab yang diikat dalam berbagai bentuk kerja sama multilateral. Langkah ini juga strategis dalam mempertahankan posisi ASEAN sebagai key driver dalam regionalisme Asia Tenggara dan Asia Timur. Secara internal ASEAN, kebangkitan Cina dan persaingan yang lebih intensif dengan kekuatan-kekuatan ekstra regional yang lain, mendorong ASEAN untuk secara serius melakukan konsilidasi ke dalam antara lain dengan membentuk ASEAN Community dan ASEAN Charter.

CINA : FRIEND OR FOE ?
Masih terdapat dua pertanyaan besar tentang hubungan ASEAN-Cina. Pertama, tidak semua pihak yakin bahwa Cina akan tetap peaceful dan pacifist dimasa yang akan datang. Bahwa Cina sekarang melakukan apa yang disebut sebagai bangkit dengan damai (Heping Jueqi/Peaceful rise), mungkin saja hal ini ditunjukkan untuk menjawab kekhawatiran tentang Cina dan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kepentingan diplomasi dan kepentingan ekonomi Cina. Pertanyaan dan keraguan tentang Cina ini memang mewakili perspektif realis yang selalu melihat munculnya suatu kekuatan besar baru sebagai ancaman terhadap keseimbangan kekuatan dan stabilitas internasional. Pertanyaan ini akan terus mengemuka sejalan dengan peningkatan kekuatan militer secara dalam hampir dua dekade terakhir. Yang pasti sampai sekarang posisi Cina masih dapat digambarkan sebagai aset atau teman (Partner) di kawasan Asia Tenggara. Bahkan hubungan Indonesia-Cina sekarang ini sedang mesra-mesranya atau masuk dalam fase bulan madu (Honey Moon). Hal ini tertuang di dalam Joint Declaration Indonesia-Cina on Strategic Partnership, di mana point penting dari Indonesia adalah setia dalam mendukung kebijakan satu Cina (one china policy), sementara Cina juga setia untuk mengakui integritas kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.
Kedua, ASEAN yang lebih terkonsolidasi dan terlembaga juga akan mempengaruhi sikap ASEAN terhadap negara-negara besar, khususnya Cina. Selama ini Cina merasa nyaman dengan apa yang disebut sebagai ASEAN Way, konsensus, prinsip non interference dan penghormatan kedaulatan nasional yang dikembangkan oleh ASEAN, termasuk partisipasi Cina di Forum-forum Asia Tenggara seperti ASEAN+3 dan ASEAN Regional Forum (ARF). Seberapa jauh ASEAN Community dan ASEAN Charter akan mengubah karakter kerja sama ASEAN yang akan berimplikasi pada hubungannya dengan Cina. Juga, masalah HAM dan demokrasi yang dikembangkan dalam ASEAN Security Community dan ASEAN Charter pasti akan melahirkan hubungan yang sensitif dengan Cina dimasa yang akan datang. Baik ASEAN dan Cina akan harus saling menyesuaikan diri sebagai konsekuensi dari konsolidasi internal ASEAN. Dan sikap saling percaya (Confidence Building Measures) merupakan faktor kunci dalam menjawab tantangan Cina di masa depan.

About these ads

Actions

Information

One response

22 12 2010
fyan

bagys sekali analisisnya membuat saya terkesan dengan pandangan anda dalam menilain pengaruh china di indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: